Arsip & Esai

Jejak S. Sudjojono dan Tonggak Seni Rupa Modern Indonesia

Mengenal perjalanan hidup dan karya S. Sudjojono, pelukis perintis yang membentuk babak baru sejarah seni rupa modern Indonesia.

Jejak S. Sudjojono dan Tonggak Seni Rupa Modern Indonesia
Ilustrasi  ·  Foto dibuat AI, bukan dokumentasi peristiwa

Pelukis S. Sudjojono lahir di Kisaran, Sumatra Utara, pada 1913 dan dikenal luas sebagai salah satu tokoh sentral dalam sejarah seni rupa modern Indonesia. Perjalanan hidup serta kekaryaan pelukis yang wafat pada 25 April 1986 ini mencerminkan dinamika kebudayaan, politik, serta pencarian identitas visual bangsa. Dalam catatan sejarah kebudayaan, kiprahnya membentuk babak baru bagi perkembangan seni lukis Nusantara melalui gagasan kebangsaan dan penolakan terhadap gaya kolonial.

Masuknya pengaruh seni rupa Barat bagi S. Sudjojono pada masa itu tidak dipandang sebagai sebuah masalah yang merusak identitas. Para pelukis Indonesia justru disikapi dapat memanfaatkan pengaruh tersebut sebagai ruang untuk mencari gaya khas seni lukis yang bersumber dari realitas keindonesiaan. Para perupa didorong untuk tidak sekadar meniru gaya luar, melainkan menggali jiwa dan kenyataan hidup rakyat di sekitarnya secara jujur.

Latar belakang kehidupan S. Sudjojono bermula dari keluarga sederhana di Sumatra Utara sebelum ia kemudian diadopsi oleh seorang guru. Ia memperoleh pendidikan formal di Taman Siswa Teachers College di Yogyakarta dan sempat menerima tawaran komisi untuk membuka sekolah di Rogojampi, Banyuwangi, pada 1931. Namun, ia menolak tawaran tersebut dan memilih untuk mengejar jalur seni lukis dengan belajar di bawah bimbingan seniman Jepang Chioyoji Yazaki serta pelukis Mas Pirngadi.

Perjuangan estetiknya semakin terorganisasi ketika S. Sudjojono bersama Agus Djaja mendirikan Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia atau Persagi pada 1937. Organisasi ini dibentuk sebagai wadah yang berkomitmen untuk mengarahkan seni rupa Indonesia ke jalur modern yang melepaskan diri dari kungkungan gaya Mooi Indie atau Hindia Molek yang populer di kalangan orang Eropa. Melalui Persagi, para seniman berupaya menggambarkan realitas sosial yang keras di tengah masa kolonial ketimbang menampilkan pemandangan alam yang dianggap memperindah situasi faktual.

Karya-karya penting dari sang pelukis merekam berbagai peristiwa sejarah dan realitas sosial masyarakat Indonesia. Lukisan berjudul Tanjung Priok yang dibuat pada 1975 menggunakan cat minyak di atas kanvas dengan ukuran 109 sentimeter kali 88 sentimeter kini menjadi koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik di Jakarta. Lukisan tersebut menampilkan suasana Pelabuhan Tanjung Priok pada dekade 1970-an dengan kehadiran kapal-kapal tradisional di tengah fasilitas pelabuhan yang modern.

Karya monumental lainnya mencakup lukisan yang dibuat pada masa-masa pergolakan politik dan sosial di tanah air. Lukisan berjudul Pertemuan di Tjikampek dan Ngaso yang masing-masing diciptakan pada 1964 mencerminkan aspirasi sang perupa untuk merefleksikan kehidupan rakyat secara nyata. Selain itu, lukisan Our Soldiers Led Under Prince Diponegoro buatan 1979 yang menggambarkan kemenangan pasukan Indonesia dalam Perang Jawa sempat mencatatkan rekor lelang tertinggi bagi sang seniman di balai lelang Sotheby's di Hong Kong.

Perkembangan karier S. Sudjojono kemudian membawanya terlibat dalam kancah politik melalui kelembagaan kebudayaan pada dekade 1950-an. Ia bergabung dengan lembaga kebudayaan rakyat dan terpilih menjadi anggota parlemen pada 1955 sebelum akhirnya keluar dari struktur tersebut beberapa tahun kemudian. Pada masa-masa akhir hidupnya, ia terus bereksperimen dengan gaya ekspresionisme serta mengambil inspirasi dari cerita rakyat Bali di tengah dinamika politik nasional yang terus berubah.

Pandangan mengenai peran penting sang pelukis turut disampaikan oleh berbagai kalangan pengamat dan pelaku seni dalam catatan sejarah seni rupa. Menurut direktur Singapore Art Museum saat itu, Kwok Kian Chow, S. Sudjojono dipandang sebagai teoretikus seni rupa modern Indonesia yang memberikan pengaruh besar bagi generasi perupa setelahnya. Sementara itu, kurator Shafrina Fauzia dari UP Kawasan Perkampungan Budaya Betawi menyoroti signifikansi karya-karya sang maestro dalam merekam jejak kebudayaan maritim Nusantara.

Jejak sejarah kekaryaan S. Sudjojono kini dapat disaksikan melalui berbagai koleksi museum, arsip, serta pameran khusus yang diselenggarakan di dalam maupun luar negeri. Pameran peringatan seratus tahun kelahiran sang seniman pernah digelar dengan judul S. Sudjojono: Art, Life and Legacy di Pakarti Center, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Sejumlah karya serta dokumen pribadinya juga dirawat dan dipamerkan melalui pusat arsip S. Sudjojono Center yang didirikan oleh istrinya, Rose Pandanwangi, guna memberikan akses edukasi bagi publik terhadap warisan pemikiran sang pelukis.

Penelusuran terhadap rekam jejak S. Sudjojono memperlihatkan bagaimana sebuah gerakan seni rupa tidak dapat dipisahkan dari pergulatan sosial zamannya. Upaya para perupa perintis untuk melepaskan diri dari estetika kolonial membuktikan bahwa seni lukis mampu menjadi medium pencarian identitas kebangsaan yang otonom.

Meski demikian, ekosistem seni rupa Indonesia hari ini masih menghadapi tantangan besar dalam hal tata kelola arsip dan dokumentasi karya maestro sejarah. Perawatan karya serta keterbukaan akses repositori publik memerlukan dukungan kelembagaan yang lebih kuat agar perjalanan sejarah seni rupa nusantara tetap dapat dipelajari secara berkelanjutan oleh generasi mendatang.

Bagikan WhatsApp X Facebook Telegram