Pameran Retrospektif Menyibak Kabut Peringati 100 Tahun Pelukis Zaini di TIM
Pameran retrospektif Menyibak Kabut di Taman Ismail Marzuki memperingati 100 tahun kelahiran pelukis Zaini dengan menampilkan karya dan arsip historis.
Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta menyelenggarakan Pameran Retrospektif Menyibak Kabut untuk memperingati 100 tahun kelahiran pelukis Zaini di Galeri Cipta I dan II, Gedung Trisno Soemardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran yang berlangsung dari tanggal 20 Juni hingga 11 Juli 2026 ini menampilkan karya-karya Zaini dari rentang tahun 1948 hingga 1977.
Pelukis Zaini lahir di Pariaman, Sumatera Barat, pada tahun 1926 dan belajar melukis pada sejumlah tokoh penting seperti Wakidi, S. Sudjojono, Basuki Abdullah, dan Affandi. Dalam perjalanan keseniannya, Zaini melukis berbagai obyek mulai dari alam benda, pemandangan alam, hewan dan tumbuhan, hingga perahu.
Karya-karyanya dikenal memiliki corak semi-abstrak yang lembut, liris, serta misterius. Bersama pelukis Oesman Effendi, Nashar, dan Rusli, Zaini merupakan seorang pelukis asal Sumatera yang turut mewarnai corak seni lukis Indonesia di Jakarta pada era 1970-an.
Selain aktif sebagai perupa, Zaini memiliki rekam jejak organisasi seni yang panjang selama kurang lebih tiga dekade. Keterlibatannya bermula dari Seniman Masyarakat dan Seniman Indonesia Muda pada tahun 1946, kemudian Gabungan Pelukis Indonesia pada tahun 1948. Sejak tahun 1956, ia mengajar di Balai Budaya Jakarta dan Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional.
Zaini juga tercatat ikut mendirikan Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1968 serta menjadi bagian dari Komite Seni Rupa dan pengurus harian hingga tahun 1977. Bersamaan dengan pengabdiannya di Dewan Kesenian Jakarta, ia mengajar di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang kini dikenal sebagai Institut Kesenian Jakarta pada rentang tahun 1971 hingga 1976. Selain itu, Zaini mendesain logo dan menjadi salah satu redaktur majalah sastra dan budaya Horison sebelum akhirnya meninggal dunia di Jakarta pada 25 September 1977.
Pameran retrospektif ini dibuka secara resmi pada 20 Juni 2026 oleh Maya Sujatmiko selaku ketua Asosiasi Galeri Seni Rupa Indonesia. Penyelenggaraan pameran ini turut didampingi oleh program serial video konten sejarah yang ditayangkan di kanal YouTube Dewan Kesenian Jakarta pada 17, 18, dan 19 Juni 2026.
Program tersebut menghadirkan kritikus seni Bambang Bujono, pematung dan aktivis Dolorosa Sinaga, serta anak kandung Zaini yaitu Yuzier Zaini. Para pembicara dalam serial video tersebut menceritakan karya serta kepribadian Zaini sebagai seniman, pengajar seni lukis, organisator, hingga redaktur majalah seni dan budaya.
Pameran Menyibak Kabut menghadirkan beragam medium karya meliputi cat minyak, cat air, tinta hitam, hingga pastel yang terbagi ke dalam dua ruang pamer. Galeri Cipta I menampilkan karya-karya dengan penggunaan cat minyak yang lebih kaya warna, sementara Galeri Cipta II memamerkan sketsa, karya berbahan spidol, tinta, hingga vinyet. Penggunaan berbagai medium ini menunjukkan fondasi garis dan penguasaan teknik yang kuat dalam proses kreatif sang pelukis.
Karakteristik visual karya Zaini banyak yang tampak seperti dilapisi kabut, sebagaimana pernah diulas oleh kritikus seni Bambang Bujono dalam esainya yang berjudul Yang Tinggal Hanyalah Kabut di majalah Tempo pada tahun 1978. Konsep tersebut diangkat kembali dalam pameran ini untuk menelaah ekologi kekaryaan Zaini secara mendalam. Selain pameran dan serial video, penyelenggara juga mengadakan program diskusi publik bersama kurator Chabib Duta Hapsoro dan Gesyada Siregar yang dilaksanakan pada 4 Juli 2026.
Kurator pameran Ibrahim Soetomo menjelaskan bahwa pameran ini meminjam esai kritik Bambang Bujono untuk menghadirkan kembali karya-karya Zaini. Menurut Ibrahim, kehadiran tirai kabut mengajak publik menelaah ekologi kekaryaan Zaini secara lebih mendalam dan apa adanya.
Ia menambahkan bahwa Zaini menggeluti perbendaharaan subjek yang sama, mulai dari figur manusia, perahu, pemandangan, hingga hewan, yang perwujudannya dicapai lewat penguasaan penuh terhadap medium. Kedua ruang pamer memiliki atmosfer yang berbeda namun tetap dijaga oleh kekhasan serta kelembutan ekspresi Zaini, di mana setiap galeri bertindak sebagai ruang internal bagi galeri seberangnya dalam tata pajang yang tidak diakronis.
Penyelenggaraan pameran retrospektif di Taman Ismail Marzuki ini menjadi salah satu bentuk penelusuran sejarah seni rupa modern Indonesia melalui arsip dan karya maestro. Kompleks Taman Ismail Marzuki sendiri berlokasi di Jalan Cikini Raya Nomor 73, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, yang kini kembali aktif sebagai pusat kesenian publik setelah proses revitalisasi. Pameran Menyibak Kabut dapat dikunjungi oleh masyarakat umum di Galeri Cipta I dan II Gedung Trisno Soemardjo hingga tanggal 11 Juli 2026.
Pameran retrospektif ini memperlihatkan pentingnya kerja arsip dan penelusuran sejarah secara konsisten dalam merawat memori kolektif seni rupa Indonesia. Upaya menghadirkan kembali karya serta rekam jejak tokoh seperti Zaini memberikan ruang bagi publik untuk melihat akar modernisme seni lukis lokal secara langsung melalui medium aslinya. Langkah Dewan Kesenian Jakarta ini menunjukkan bahwa institusi seni memiliki peran vital tidak hanya sebagai ruang pamer, tetapi juga sebagai penjaga arsip sejarah kesenian yang kerap tercecer.
##