Eksplorasi Material & Proses

Pigmen Limbah Nidiya Kusmaya: Menimbang Ulang Nilai Material Seni

Nidiya Kusmaya mengekstrak pigmen dari limbah, menantang logika pasar yang mendominasi seni rupa Indonesia. Praktik ini menggeser nilai estetika ke residu.

Pameran berlangsung: 3-31 Juli 2026
Pigmen Limbah Nidiya Kusmaya: Menimbang Ulang Nilai Material Seni
Foto: Steve A Johnson / Unsplash

Nidiya Kusmaya menampilkan pameran tunggal perdananya, "Meramu Sisa," di Galeri Ruang Dini, Bandung, pada 3-31 Juli 2026. Praktik interdisipliner Nidiya melibatkan kriya, seni rupa, dan sains. Ia berfokus pada eksplorasi pigmen alternatif dari berbagai material limbah.

Karya Cigaru Brown Cijiwa Yellow Sukabumi, Jawa Barat menampilkan lembaran kertas dengan warna merah kecoklatan dan garis kuning. Pigmen merah kecoklatan ini berasal dari tanah di lokasi penambangan emas dekat rumahnya. Warna kuningnya didapat dari endapan mineral air keruh dan berminyak bekas cucian. Nidiya juga memamerkan pigmen hitam dari batubara dan abu karbon pembangkit listrik.

Nidiya memilih material ini karena keyakinan pada keberlanjutan lingkungan. Ia ingin memperpanjang siklus hidup material yang sering dianggap tidak berguna. Seniman ini berupaya mengubah persepsi publik terhadap limbah.

Material limbah membawa sejarah dan konteks asal-usulnya ke dalam karya. Pigmen dari tanah tambang emas atau abu batubara secara fisik merekam jejak eksploitasi dan polusi. Karakter visual pigmen ini secara inheren menyampaikan narasi tentang dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan.

Pilihan material Nidiya berhasil menggeser nilai estetika dari kemurnian ke residu. Karya-karyanya tidak hanya menampilkan palet warna alami, tetapi juga menuntut peninjauan ulang sumber daya. Keberhasilan proyek Nidiya terletak pada kemampuannya menjaga legibilitas asal-usul material di dalam bentuk estetik akhir.

Praktik Nidiya Kusmaya menandai kecenderungan seniman Indonesia yang semakin kritis terhadap sumber material. Pendekatan ini menolak logika pasar yang mengagungkan material mahal atau konvensional. Ia justru mengembalikan fokus pada fungsi kritis seni dalam menyoal dampak ekologis dan sosial dari produksi material.