Opini

Menganalisis 139 Pernyataan karya di “Salon Et Cetera” 2026

Puluhan karya dalam Salon Et Cetera 2026 berbicara tentang kecemasan, tekanan sosial, ketimpangan, dan eksklusi. Tapi hampir semuanya berakhir di titik yang sama: resiliensi, penerimaan, pertumbuhan diri.

Menganalisis 139 Pernyataan karya di “Salon Et Cetera” 2026
Photo by Guilherme Petri on Unsplash

Ada cara mudah untuk membaca katalog pameran: membacanya dari depan ke belakang, menikmati gambar, mengangguk pada teks-teks yang terdengar cerdas, lalu menutupnya dengan perasaan bahwa seni rupa Indonesia sedang baik-baik saja.

Salon Et Cetera 2026, pameran kolektif Ace House Collective dan Equator Art Projects yang menampilkan lebih dari seratus seniman, sangat memudahkan pembacaan semacam itu. Katalognya tebal, desainnya rapi, dan setiap karya dilengkapi pernyataan yang terdengar serius.

Tapi ada cara lain untuk membacanya: membaca seluruh 139 pernyataan karya secara berurutan, mencatat apa yang benar-benar dipertaruhkan di setiap teks, dan bertanya, seberapa banyak gagasan di sini yang tidak bisa digantikan oleh orang lain?

Jawabannya mengkhawatirkan. Dari 139 pernyataan yang bisa dibaca, sekitar delapan karya memiliki gagasan yang genuinely kuat dan tidak bisa ditukar. Sekitar dua belas karya punya gagasan yang solid meski tidak istimewa. Sisanya, lebih dari tiga perempat dari seluruh pameran, berada dalam zona yang oleh Sanento Yuliman, kritikus seni Indonesia paling penting abad lalu, disebut sebagai "lingkaran masalah yang begitu-begitu juga."

Ini bukan kritik terhadap kemampuan teknis para seniman. Ini adalah diagnosis terhadap ekosistem yang gagal memproduksi tekanan intelektual yang cukup.

Yang Paling Mengkhawatirkan: Psikologisasi Masalah Struktural

Pola pertama dan paling konsisten: masalah yang struktural diselesaikan pada level individual.

Puluhan karya dalam pameran ini berbicara tentang kecemasan, tekanan sosial, ketimpangan, dan eksklusi. Tapi hampir semuanya berakhir di titik yang sama: resiliensi, penerimaan, pertumbuhan diri. Karya Iqi Qoror tentang kaktus yang dipeluk saat tidur berakhir pada "resilience as survival mechanism." Karya Haidar Emen tentang perempuan yang ditekan kolektivitas berakhir pada "challenges are only temporary phases." Karya Rizka Azizah Hayati tentang transisi traumatik berakhir pada metafora belajar terbang.

Tidak ada yang salah dengan narasi ketahanan. Yang bermasalah adalah ketika ketahanan menjadi resolusi tunggal dari kondisi yang seharusnya memancing kemarahan, bukan penerimaan. Ketika seni yang berbicara tentang ketimpangan selalu berakhir dengan pesan bahwa individu bisa bertahan, bukan bahwa sistem perlu diubah, maka seni itu tidak lagi menantang realitas. Ia menghibur penontonnya untuk menerima realitas itu.

Ini bukan pilihan estetik. Ini adalah ideologi yang menyamar sebagai sikap artistik.

Yang Paling Marak: Referensi Intelektual Sebagai Ornamen

Pola kedua: kosakata teori digunakan untuk memberi legitimasi, bukan untuk mempertajam argumen.

Beberapa karya mengutip Sartre, Kahlil Gibran, Aesop, konsep-konsep filsafat Sanskerta. Tapi dalam hampir setiap kasus, referensi ini bisa dilepas dari teks tanpa mengubah apa pun. Karya Endry Pragusta menyebut “Nausea” Sartre sebagai inspirasi, tapi argumen tentang keanehan alam primordial yang ia ajukan tidak memerlukan Sartre untuk berdiri. Nama itu hadir bukan sebagai pemikiran yang bekerja, tapi sebagai cap legitimasi.

Ini persis yang dimaksud Sanento ketika ia berbicara tentang kritik seni yang "menghindari lingkaran masalah yang begitu-begitu juga." Ia menginginkan penggunaan intelektual yang sungguh-sungguh, bukan dekorasi. Tapi tiga puluh tahun setelah Sanento menulis itu, ekosistem seni Indonesia masih memproduksi teks-teks yang mengutip tanpa memikirkan, yang mereferensi tanpa berisiko.

Yang Paling Menggelisahkan: AI Sebagai Topik Tanpa Epistemologi Baru

Pola ketiga adalah yang paling paradoksal. Banyak karya dalam pameran ini menyebut kecerdasan buatan, algoritma, dan surveillance sebagai tema. Abi Rama, Dede Cipon, Dwiky KA, Roger Mond, semuanya mengangkat lanskap digital sebagai latar atau subjek.

Tapi hampir tidak ada yang menggunakan kondisi AI sebagai sesuatu yang mengubah cara mereka bekerja. Mereka berbicara tentang AI dari posisi yang sama dengan cara seniman berbicara tentang televisi di tahun 1970an atau tentang internet di tahun 1990an, dengan kecemasan yang familiar, dengan metafora yang sudah tersedia, dengan resolusi yang sudah bisa ditebak.

Bandingkan dengan Riar Rizaldi dalam “Kasiterit-extended”. Ia tidak berbicara tentang teknologi dari luar. Ia menggunakan iPhone, perangkat yang menjadi titik akhir dari rantai ekstraksi yang ia teliti, sebagai material sekaligus kritiknya. Kalkulasi matematis tentang waktu kerja penambang timah versus output industri PT Timah diubah menjadi dua video dengan durasi yang sangat tidak setara: dua puluh menit berbanding enam frame. Ini bukan karya tentang ketimpangan. Ini karya yang mewujudkan ketimpangan dalam bentuk yang tidak bisa diperdebatkan.

Selisih antara Riar Rizaldi dan sebagian besar karya lain dalam pameran ini adalah selisih antara pemikiran yang berisiko dan pemikiran yang aman.

Yang Benar-benar Kuat: Delapan Karya yang Mempertaruhkan Sesuatu

Di antara kekosongan itu, ada karya-karya yang betul-betul tidak bisa digantikan. Munif Rafi Zuhdi menggunakan sekrup bekas dari pekerjaannya sebagai art handler untuk mempertanyakan infrastruktur pameran dari dalam pameran itu sendiri, sebuah posisi ganda yang menjadi materi, bukan sekadar narasi.

Meita Meilita membuat bordir hitam di atas kain hitam sebagai respons terhadap Aksi Kamisan: karya yang menyembunyikan dirinya adalah karya yang paling konsisten dengan kontennya. Marten Bayuaji membuka dengan pertanyaan yang ia biarkan tidak terjawab dan tidak menawarkan resolusi.

Yosefa Aulia mengambil gambar papan bunga pemakaman ayahnya dan membangun dari sana sebuah pertanyaan tentang bagaimana kesedihan dipentaskan secara sosial, dan satu karyanya ia cantumkan "Not For Sale" tanpa penjelasan apa pun.

Karya-karya ini memiliki satu kesamaan: mereka tidak menawarkan kenyamanan. Mereka tidak berakhir di "resiliensi" atau "transformasi." Mereka membiarkan pertanyaannya tetap terbuka dan menggelisahkan.

Diagnosis: Ekosistem Tanpa Tekanan

Persoalannya bukan pada individu seniman. Banyak dari mereka jelas memiliki kemampuan berpikir yang lebih jauh dari yang ditampilkan di sini. Persoalannya adalah ekosistem yang tidak meminta mereka untuk berpikir lebih jauh.

Ketika tidak ada kritik seni yang berfungsi, tidak ada yang mempertanyakan apakah sebuah karya benar-benar mempertaruhkan sesuatu atau hanya berpenampilan seperti itu. Ketika format pameran seperti “Salon Et Cetera” menampung seratus lebih seniman tanpa kurasi tematik yang mempertemukan atau membenturkan gagasan, tidak ada tekanan untuk membedakan diri secara intelektual. Ketika pasar menjadi satu-satunya mekanisme seleksi yang benar-benar bekerja, yang tersisa adalah karya yang mudah dikonsumsi, dan gagasan yang mudah dikonsumsi adalah gagasan yang tidak mengancam siapa pun.

Maka yang kita dapatkan adalah 75 persen kekosongan yang terbalut kosakata kontemporer. Bukan karena seniman-seniman ini tidak mampu. Tapi karena ekosistemnya tidak pernah meminta lebih dari itu.

Sanento Yuliman menulis tentang ekosistem seni yang masuk dalam suasana "segala sesuatu menjadi legenda dan kita tidak pernah bertanya apa-apa." Ia menulis itu untuk konteks tahun 1960an. Enam dekade kemudian, Salon Et Cetera 2026 membuktikan bahwa kita masih belum belajar bertanya.

Daftar Pustaka

Ace House Collective dan Equator Art Projects. Salon Et Cetera 2026: E-Catalogue. Yogyakarta: Langgeng Art Space, 2026.

Wiratno, Tri Aru. "Matinya Kritik Seni Rupa Indonesia, Matinya Budaya Seni Rupa Indonesia." Jurnal NATAR, Vol. 1, No. 1 (2022). Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta.

Yuliman, Sanento. Estetika yang Merabunkan: Bunga Rampai Esai dan Kritik Seni Rupa 1969-1992. Penyunting: Hendro Wiyanto. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta dan Gang Kabel, 2020.

Yuliman, Sanento. Keindonesiaan, Kerakyatan, dan Modernisme dalam Kritik Seni Lukis di Indonesia. Penyunting: Hendro Wiyanto. Pengantar: Aminudin T.H. Siregar. Jakarta: Gang Kabel, 2021.