Tokoh

Sosok Nasirun, Perupa yang Mengoleksi Barang Antik Menjadi Karya Seni

Mengenal perjalanan perupa kontemporer Nasirun dan pameran tunggalnya di Galeri Nasional Indonesia melalui koleksi barang antik serta tradisi Jawa.

Sosok Nasirun, Perupa yang Mengoleksi Barang Antik Menjadi Karya Seni
Ilustrasi  ·  Dibuat oleh AI

Nasirun adalah seorang perupa kontemporer asal Cilacap, Jawa Tengah, yang lahir pada 1 Oktober 1965. Namanya kembali menjadi pusat perhatian publik seni rupa Indonesia melalui pameran tunggal berskala besar bertajuk "Nasirun (1965–2026): Bersimpuh di Kaki Para Guru" di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Pameran yang dibuka secara resmi pada pertengahan September 2026 ini menampilkan sejumlah karya seperti Persembahan untuk Bathara Guru (1999) dan Tahta untuk Petruk (2015).

Penyelenggaraan pameran tersebut menjadi wujud penghormatan terhadap Nasirun yang berpulang pada 1 Agustus 2026. Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan pameran tersebut pada Sabtu. "Pameran ini sangat relevan untuk memberi penghormatan kepada almarhum," ujar Menteri Kebudayaan.

Perjalanan Kekaryaan dan Akar Tradisi Jawa

Jalan seni Nasirun berakar kuat pada nilai-nilai tradisi Jawa yang memiliki nilai kegunaan atau kagunan. Berasal dari keluarga petani, ia menempuh pendidikan seni setelah lulus dari Sekolah Menengah Seni Rupa dengan mendalami kriya batik, lalu melanjutkan kuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada 1993.

Dalam rekam jejak kreatifnya, Nasirun dikenal gemar mengoleksi aneka benda antik dan barang kenangan. Hobi tersebut bermula setelah ia lulus dari sekolah menengah seni rupa dan sempat bergiat sebagai pengrajin batik di Yogyakarta.

Pengolahan Barang Antik dan Koleksi Benda Memorabilia

Kecintaan Nasirun pada benda-benda masa lalu tecermin dalam pameran tunggal bertajuk Memorabilia yang pernah digelar di Galeri Orbital Dago, Bandung, pada 19 Maret hingga 27 April 2025. Dalam pameran tersebut, ia memamerkan gambar, lukisan, serta ukiran yang melekat langsung pada benda-benda antik koleksinya.

Kurator pameran tersebut, Rifky Effendy, menjelaskan kepada Tempo bahwa memorabilia merupakan istilah umum yang merujuk pada benda-benda untuk mengingatkan orang pada suatu peristiwa. Menurut Rifky, karya Nasirun pada benda-benda antik tersebut mendaur ulang fisik dan fungsinya. “Saat ini mungkin disebut up-cycle yang menambah tafsir dan mengubah makna kepada benda-benda fungsional menjadi simbolik,” ujar Rifky.

Pameran "Nasirun (1965–2026): Bersimpuh di Kaki Para Guru" di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, terbuka untuk umum mulai 13 September 2026 hingga 11 Oktober 2026. Pameran ini dilaksanakan sebagai pameran terakhir sebelum gedung Galeri Nasional Indonesia menjalani revitalisasi. Jam kunjungan pameran berlangsung pada Selasa hingga Kamis pukul 10.00 sampai 18.00 WIB serta Jumat hingga Minggu pukul 10.00 hingga 20.00 WIB, sementara hari Senin tutup.

Bagikan WhatsApp X Facebook Telegram