Situated Knowledge dan Arsip Perempuan: Membedah "ON THE MAP" di Galeri Nasional
Pameran "ON THE MAP" di Galeri Nasional mengukuhkan situated knowledge sebagai kerangka, namun menghadapi tantangan dalam kedalaman eksplorasi 12 seniman.
Instalasi "Armor of Awareness" oleh Kana Fuddy Prakoso menampilkan dua figur lapis baja setinggi manusia yang dirangkai dari kardus bekas kemasan. Figur-figur ini berdiri tegak, mengawal sebuah peta samudra berukuran besar yang terbentang di lantai atau dinding. Pengunjung dapat mengamati detail tekstur kardus yang membentuk lapisan zirah, serta interaksi visual antara figur dan peta.
Ni Nyoman Sani menghadirkan karya "Rumah" (2026), sementara Dyantini Adeline menampilkan "Mengalir Sampai Jauh" (2026). Karya-karya ini, bersama kreasi Ve Dhanito dan Nona Yoanishara, secara visual maupun konseptual mengeksplorasi artefak ingatan. Narasi personal dari masing-masing seniman disajikan melalui medium yang tidak disebutkan, namun tujuannya adalah memicu pengalaman familiar dan terhubung secara universal.
Karya Kana Fuddy Prakoso secara konkret mengoperasikan konsep situated knowledge dengan menambatkannya pada ingatan sejarah. Figur lapis baja Ratna Kencana, ratu maritim abad ke-16, menjadi manifestasi fisik kekuatan perempuan dari konteks spesifik. Material kardus bekas menegaskan bahwa pengetahuan historis dapat diartikulasikan ulang melalui benda sehari-hari, menembus hierarki material seni.
"Rumah" karya Ni Nyoman Sani dan "Mengalir Sampai Jauh" karya Dyantini Adeline memperluas gagasan situated knowledge ke ranah pengalaman ketubuhan. Kedua karya ini menjadikan narasi personal sebagai titik tolak untuk refleksi identitas. Pengalaman subjektif diperlakukan sebagai basis epistemis yang valid, bukan sekadar ekspresi individual.
Pameran "ON THE MAP" berupaya memposisikan kembali peran perupa perempuan dalam diskursus seni rupa Indonesia terkini. Alih-alih merespons tren pasar, pameran ini secara kuratorial memprioritaskan arsip kultural dan validasi perspektif yang sering terpinggirkan. Ini merupakan intervensi signifikan terhadap narasi seni yang bias gender dan cenderung homogen.
Namun, pameran ini menghadapi komplikasi inheren dalam skala dan ambisinya. Dengan 12 seniman dan tema "On The Map" yang mencakup ingatan, empati, relasi alam, hingga warisan budaya, kedalaman eksplorasi setiap praktik artistik menjadi tantangan. Kuratorial harus menyeimbangkan keluasan cakupan dengan fokus yang intensif pada setiap karya.
"Indonesian Women Artists #4: ON THE MAP" berhasil menegaskan kontribusi perupa perempuan dengan membangun arsip kultural yang esensial. Pameran ini berhasil dalam menetapkan situated knowledge sebagai kerangka analitis yang kuat. Tantangannya terletak pada bagaimana kuratorial dapat mempertahankan koherensi dan kedalaman dalam spektrum tema yang luas.