Intan Dewi Sukmawangi Pamerkan 29 Karya Seni Rupa Berbahan Sampah Daur Ulang
Seniman Intan Dewi Sukmawangi menggelar pameran tunggal Merengkuh Luka Peradaban di Bentara Budaya Jakarta dengan menampilkan 29 karya seni limbah.
Seniman Intan Dewi Sukmawangi menggelar pameran tunggal seni rupa bertajuk "Merengkuh Luka Peradaban" di galeri Bentara Budaya Jakarta. Pameran karya seni yang memanfaatkan material bekas dan limbah konsumsi ini resmi dibuka untuk publik pada Kamis, 22 Oktober 2026, dan dijadwalkan berlangsung hingga 13 November 2026. Kurator Wisnu Nugroho bertindak sebagai pengampu pameran yang menampilkan deretan karya seni rupa kontemporer berbahan dasar daur ulang tersebut.
Dalam pameran tunggal ini, Intan Dewi Sukmawangi menampilkan total 29 karya seni rupa yang seluruhnya menggunakan material bekas dan limbah konsumsi sehari-hari.
Pilihan material limbah ini dihadirkan sebagai respons langsung terhadap pola konsumsi masyarakat modern serta produksi sampah yang berdampak pada lingkungan hidup.
Pameran tunggal "Merengkuh Luka Peradaban" bertempat di galeri Bentara Budaya Jakarta dan dapat dikunjungi oleh masyarakat umum setiap hari. Pameran ini membuka jam kunjungan mulai pukul 10.00 hingga 18.00 WIB selama periode penyelenggaraannya hingga tanggal 13 November 2026. Pameran karya seni rupa kontemporer berbahan dasar daur ulang ini menghadirkan total 29 karya seni rupa yang seluruhnya menggunakan material bekas dan limbah konsumsi sehari-hari serta ditata sedemikian rupa di dalam ruang pamer galeri.
Pameran tunggal Intan Dewi Sukmawangi memperlihatkan bagaimana isu lingkungan dapat diterjemahkan secara konsisten ke dalam praktik seni rupa kontemporer. Penggunaan material limbah sebagai medium utama bukan sekadar pilihan estetik, melainkan upaya mendesak untuk mempertemukan kerja kreatif dengan persoalan ekologi perkotaan yang semakin mendesak. Konsistensi mengolah 29 karya dari barang buangan menunjukkan keseriusan eksplorasi material yang jarang ditemui dalam pameran tunggal berskala serupa di ruang publik Jakarta.
Kehadiran pameran ini sekaligus menggarisbawahi pentingnya perluasan ruang bagi seniman yang mengangkat isu keberlanjutan lingkungan di galeri-galeri seni Indonesia. Ruang pamer seperti Bentara Budaya memberikan akses bagi publik untuk melihat langsung bagaimana sampah dapat diubah menjadi refleksi peradaban modern. Model pameran semacam ini layak diapresiasi karena memperkaya diskursus seni rupa lokal melampaui batasan medium konvensional seperti kanvas atau perunggu.