Seni & Disrupsi Teknologi

10AFEST 2026 Soroti Inovasi Seni dan Teknologi di Hong Kong

Konferensi internasional 10AFEST 2026 di CityUHK Hong Kong mempertemukan 120 delegasi untuk membahas inovasi seni rupa dan teknologi digital Asia.

Pameran berlangsung: 8 hingga 10 Oktober 2026
10AFEST 2026 Soroti Inovasi Seni dan Teknologi di Hong Kong
Ilustrasi  ·  Foto dibuat AI, bukan dokumentasi peristiwa

Konferensi seni dan teknologi internasional bertajuk 10AFEST 2026 resmi digelar di Indra and Harry Banga Gallery, City University of Hong Kong (CityUHK), Hong Kong, dari 8 hingga 10 Oktober 2026. Perhelatan akbar ini diselenggarakan untuk merayakan hari jadi galeri tersebut yang ke-10 dengan mengusung tema utama "Asian Art-Tech & Cultural Innovations". Acara ini mempertemukan sekitar 120 delegasi internasional yang berasal dari 23 kota di 13 negara dan wilayah, termasuk para pemimpin museum, seniman, akademisi, dan inovator global.

Perhelatan ini berfokus mengeksplorasi penerapan teknologi mutakhir dalam bidang kebudayaan dan seni rupa lintas disiplin. Teknologi yang dibahas mencakup kecerdasan buatan, extended reality, dan ilmu data yang diterapkan untuk melestarikan serta mengonservasi warisan budaya. Pemanfaatan teknologi tersebut dirancang untuk memperluas batas seni rupa melampaui ruang galeri konvensional menuju ranah pendidikan, riset, kewirausahaan, dan keterlibatan komunitas secara langsung.

Penyelenggaraan festival ini turut diisi dengan empat sesi pleno dialog Timur-Barat dan enam jalur presentasi jaringan yang melibatkan tokoh-tokoh penting dari berbagai institusi. Council Treasurer of CityUHK, Charles Chin Ying-on, menyatakan bahwa kolaborasi internasional memegang peran penting dalam misi institusi untuk menghadapi tantangan global. Melalui dialog antarbudaya dan kegiatan jejaring interaktif, pertemuan ini diharapkan mampu meletakkan landasan kuat bagi kolaborasi masa depan di bidang seni dan teknologi.

Rangkaian acara ini juga menghadirkan perdebatan dan wacana mengenai posisi institusi budaya di tengah pergeseran lanskap geopolitik global. Sesi pleno mengenai globalisasi menghadirkan Professor Kyong Park dari Store Front Gallery New York dan Professor Matthias Böttger dari Basel Academy of Art and Design untuk membahas relevansi diplomasi antarbudaya bagi generasi digital native. Selain itu, sesi mengenai museologi digital turut menyoroti masa depan penggunaan teknologi cangkih dalam konservasi warisan budaya untuk menjembatani jurang antara karya fisik dan arsip hidup.

Sejak didirikan pada tahun 2016, galeri penyelenggara telah berfungsi sebagai platform kolaborasi interdisipliner dan inovasi budaya di kawasan Asia. Kehadiran delegasi dari berbagai negara dalam festival ini mencerminkan perjumpaan langsung antara praktisi seni dan diskursus teknologi tingkat regional. Informasi lebih lanjut mengenai program pameran berkala dan jadwal kunjungan dapat diakses langsung melalui laman resmi galeri di City University of Hong Kong.

Pertemuan antara seni rupa dan teknologi di tingkat institusional menunjukkan pergeseran orientasi lembaga budaya dalam merespons perkembangan zaman. Langkah mempertemukan akademisi, seniman, dan inovator lintas negara memperlihatkan kebutuhan mendesak untuk mengadaptasi arsip digital dan media baru ke dalam ekosistem seni rupa kontemporer. Model kolaborasi seperti ini perlu terus didorong agar institusi seni di Asia tidak tertinggal dalam memfasilitasi riset seni berbasis teknologi.

Bagikan WhatsApp X Facebook Telegram