Seni & Disrupsi Teknologi

Algorithmic Organisms 2.0: AI, Authorship, dan Sirkulasi Seni

Pameran Algorithmic Organisms 2.0 di Kuala Lumpur menguji authorship dan sirkulasi seni melalui instalasi AI generatif yang selalu berubah.

Pameran berlangsung: 4 Juli – 19 Juli 2026
Algorithmic Organisms 2.0: AI, Authorship, dan Sirkulasi Seni
Foto via Let's Data Science

Pameran "Algorithmic Organisms 2.0" oleh seniman Belanda Ray Tijssen, yang dikenal dengan nama 0010x0010, berlangsung dari 4 hingga 19 Juli 2026 di The Grey Box, GMBB, Kuala Lumpur, Malaysia. Instalasi ini adalah karya audiovisual generatif yang digerakkan kecerdasan buatan (AI). Karya ini secara terus-menerus meregenerasi visual dan lanskap suaranya secara real-time.

Algoritma yang mendasari karya ini dirancang untuk menciptakan output yang selalu baru. Ini memastikan tidak ada dua pengalaman pengunjung yang identik selama 16 hari pameran.

Karya ini tidak memiliki bentuk statis, melainkan entitas yang terus berevolusi. Ia menawarkan konfigurasi visual dan auditori unik pada setiap momen interaksi.

Sistem generatif ini secara fundamental menggugat gagasan kepengarangan atau authorship tunggal dalam seni rupa. Kecerdasan buatan tidak hanya menjalankan instruksi. Ia menjadi kolaborator yang terus-menerus menciptakan output baru tanpa pengulangan atau degradasi selama pameran berlangsung.

Peran Ray Tijssen sebagai seniman bergeser dari pencipta tunggal menjadi perancang sistem yang memungkinkan karya itu sendiri terus berkreasi. Ini menempatkan fokus pada mekanisme generatif sebagai entitas otonom. Ini menantang definisi tradisional tentang keaslian karya, di mana versi "asli" tidak lagi bisa dibakukan karena karya itu sendiri berada dalam kondisi fluks yang konstan.

"Algorithmic Organisms 2.0" juga menandai pergeseran signifikan dalam sirkulasi dan distribusi karya seni. Pameran ini diposisikan sebagai pengalaman seni generatif AI berskala besar pertama di Malaysia. Ini menunjukkan tren regional yang berkembang menuju pengalaman imersif yang didukung teknologi di ruang publik.

Penjualan tiket melalui platform digital seperti Klook dan MAISEAT merefleksikan adaptasi terhadap model konsumsi seni yang lebih terintegrasi dengan teknologi dan aksesibilitas digital. Cara karya ini didistribusikan sebagai "pengalaman" yang unik bagi setiap individu, ketimbang sebagai objek fisik yang dapat dikoleksi, mengubah parameter validasi ekonomis dan kulturalnya.

Teknologi dalam karya Tijssen dapat dipandang sebagai perluasan praktik artistik. Ia menawarkan dimensi eksplorasi baru yang sebelumnya tidak mungkin. Kemampuan AI untuk meregenerasi visual dan suara secara real-time membuka ruang bagi seniman untuk menyelidiki konsep keberubahan, ketidakterulangan, dan interaksi yang mendalam antara manusia dan mesin.

Pendekatan ini memungkinkan penciptaan karya yang tidak statis, melainkan dinamis, responsif, dan mampu menyampaikan gagasan tentang kompleksitas sistemik serta evolusi organik melalui media digital. Karya ini membuktikan potensi AI sebagai medium yang mampu menciptakan pengalaman estetis yang unik dan mendalam, jauh melampaui replikasi atau otomatisasi sederhana.

Namun, potensi ini juga memunculkan pertanyaan tentang batas-batas agensi artistik dan dampak pada nilai seni di pasar. Jika karya seni terus berubah tanpa kontrol langsung seniman, bagaimana kita mengevaluasi keterampilan, visi, atau bahkan identitas seniman itu sendiri? Pergeseran fokus ke sistem generatif sebagai kolaborator bisa mengaburkan garis antara kreasi manusia dan otonomi algoritma.

Ini berpotensi mereduksi peran seniman menjadi sekadar programmer atau kurator algoritma. Ini berisiko menggeser penghargaan dari narasi dan gagasan seniman ke kecanggihan teknis perangkat lunak. Pada akhirnya, ini dapat mengerdilkan nilai intelektual dan emosional dari praktik seni.

Relevansi pameran ini bagi ekosistem seni Indonesia sangat signifikan, mengingat kedekatan geografis dan budaya Kuala Lumpur. Pameran ini berfungsi sebagai tolok ukur dan inspirasi bagi seniman serta institusi di Indonesia yang tertarik pada eksplorasi AI generatif dan seni imersif.

Seniman Indonesia yang bereksperimen dengan media baru, seperti D. J. Adiningrat, atau kolektif seni yang berfokus pada teknologi dan partisipasi, seperti Ruangrupa, dapat menemukan resonansi dalam pendekatan Tijssen. Kehadiran Ray Tijssen untuk sesi masterclass "Machine Vision & Human Expression: An Interactive Masterclass with 0010×0010" juga menunjukkan upaya aktif untuk melibatkan komunitas kreatif Asia Tenggara, menawarkan kesempatan untuk memahami mekanisme dan implikasi AI dalam seni rupa.