Nasirun, dalang visual seni rupa Yogyakarta, meninggal di usia 60
Nasirun, pelukis yang mengubah wayang dan budaya Jawa jadi kritik sosial, meninggal dunia di Yogyakarta pada usia 60 tahun, Sabtu 1 Agustus 2026.
Nasirun, pelukis yang selama tiga dekade mengubah wayang dan simbol budaya Jawa menjadi bahasa kritik sosial, meninggal dunia pada Sabtu pagi, 1 Agustus 2026. Ia wafat di RS AMC Muhammadiyah, Yogyakarta, pada usia 60 tahun setelah sebelumnya mengeluh nyeri dada dan gangguan asam lambung. Jenazahnya dimakamkan hari itu juga di Taman Makam Seniman Giri Sapto, Imogiri, Bantul.
Nasirun lahir dan besar di wilayah pesisir selatan Cilacap, Jawa Tengah, dari keluarga petani dan buruh, bukan dari lingkungan seniman. Ia menempuh pendidikan seni rupa di SSRI Yogyakarta hingga lulus pada 1983, sebelum melanjutkan kuliah lukis di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta hingga 1994. Semasa kuliah ia meraih penghargaan Lukisan Terbaik ISI Yogyakarta pada 1991, McDonald Award pada peringatan 10 tahun ISI tiga tahun berselang, dan masuk daftar Top Ten Indonesian Art Awards pada 1997.
Sejak awal 1990-an, Nasirun dikenal lewat distorsi anatomi tokoh wayang yang memuat kritik kemiskinan dan ketimpangan, seperti terlihat pada Gayuh Buli-Buli (1992). Karyanya berkembang ke satire politik pada dekade 2010-an lewat Calon Presiden Seni Rupa Indonesia (2011) dan Sultan Seni Rupa (2014).
Pada dekade yang sama pula ia menggarap instalasi Between Worlds, menempatkan miniatur wayang di dalam botol kaca sebagai metafora tradisi yang terkurung modernitas. Ia lalu beralih ke instalasi objek temuan dalam pameran Memorabilia pada 2025, memakai perangko tua dan payung usang sebagai simbol ingatan.
Musisi Kunto Aji, yang pernah berkolaborasi dengannya, menulis kabar duka lewat unggahan berlatar hitam di Instagram: "Aku menangis sambil sikat gigi... Pundakku sudah basah air mata orang yang kutenangkan." Sastrawan Agus Noor menanggapi kabar itu Sabtu pagi dengan pernyataan singkat, "Saya bersaksi ia orang yang baik." Julukan "dalang visual" yang melekat pada Nasirun merujuk caranya menggerakkan tokoh wayang sebagai alat bercerita di atas kanvas, bukan di atas panggung.
Kepergian Nasirun berlangsung di tengah pameran Arundhati di Pendhapa Art Space, Panggungharjo, Sewon, Bantul, yang mempertemukan karyanya dengan karya pematung Dunadi sejak 20 Juni dan baru akan tutup pada 20 Agustus. Di ruang itu terpajang lukisan 14 x 2 meter karya Nasirun sebagai penghormatan bagi korban Covid-19, didampingi seratus balok kayu berukir cap logam dan ratusan patung kaki dengan ornamen berbeda-beda. Kurator pameran Kuss Indarto menyebut karya ini kolaborasi formal pertama Nasirun dengan Dunadi, meski karya keduanya pernah dipamerkan berdampingan tanpa presentasi sedalam ini.
Status pameran Arundhati kini berubah dari kolaborasi dua seniman hidup menjadi pameran pertama yang menampilkan karya besar Nasirun setelah kematiannya, sementara penjelasan atas gestur penghormatan Covid-19 di kanvas 14 x 2 meter itu berpindah sepenuhnya ke tangan kurator.