Nasirun: Ekonomi Paralel Seniman yang Rapuh Tanpa Institusi Penopang
Kematian pelukis Nasirun pada 1 Agustus 2026 membongkar ketergantungan proyek pameran besar Yogyakarta pada satu figur tanpa penopang institusi.
Nasirun meninggal dunia pada 1 Agustus 2026 di RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta akibat serangan jantung mendadak, di usia 60 tahun. Pelukis kelahiran Cilacap, lulusan ASRI Yogyakarta ini dimakamkan hari yang sama di Makam Seniman Girisapto, Imogiri, Bantul. Kematiannya membatalkan proyek pameran tunggal besar yang sedang dipersiapkan, dan memicu gelombang obituari dari media nasional hingga lokal Yogyakarta, termasuk kunjungan belasungkawa mantan Menteri Susi Pudjiastuti.
Liputan atas kematiannya melampaui rubrik seni di media besar seperti Kompas dan Detik. Portal budaya lokal seperti Mojok dan Borobudur Writers and Cultural Festival menulis obituari panjang yang menelusuri kembali gaya visualnya, bukan sekadar mengabarkan kepergiannya. Skala reaksi ini konsisten dengan posisinya sebagai salah satu nama paling dikenal di kalangan pelukis senior Yogyakarta selama tiga dekade terakhir.
Salah satu proyek terakhirnya adalah "Arundhati", pameran kolaboratif bersama pelukis senior Dunadi di Pendhapa Art Space, Panggungharjo, Sewon, Bantul, berlangsung 20 Juni hingga 20 Agustus 2026. Ruang utama menampilkan dua patung setinggi 7 meter bergambar Soekarno dan Hatta, hasil kerja bersama kedua seniman. Pameran ini juga memuat ruang khusus bertajuk "Tribute Affandi", mengenang guru keduanya semasa di ASRI Yogyakarta, selain ruang memorabilia dan taman patung.
Format pameran ini gratis untuk umum, dibuka pukul 10.00 hingga 21.00 setiap hari, dengan penyelenggara menegaskan niat agar karya bisa diakses publik luas tanpa hambatan komersial. Kematian Nasirun di tengah masa pameran mengubah "Arundhati" secara de facto menjadi karya perpisahan, tanpa perubahan apa pun pada materi pameran itu sendiri. Pameran tetap berjalan sesuai jadwal hingga 20 Agustus, kini ditonton dengan bobot berbeda oleh publik yang datang.
Proyek kedua yang batal adalah pameran tunggal besar di Museum OHD, Magelang, yang sedianya digelar Oktober-November 2026. Persiapan pameran ini sudah berjalan sebelum kematian mendadaknya. Museum OHD sebelumnya pernah menggelar pameran tunggal Nasirun bertajuk "Perayaan Persahabatan" pada 2023, menampilkan sekitar 90 lukisan dari koleksi museum itu sendiri, sehingga proyek baru ini sejatinya kelanjutan hubungan lama dengan museum tersebut.
Jejak pameran Nasirun terbentang jauh sebelum dua proyek terakhir itu. Ia menggelar "Ojo Ngono!" di Galeri Nasional Indonesia pada 2000, lalu "Un(reel)" pada 2009 bersama Entang Wiharso dan Affandi, dan "RUN: Embracing Diversity" di Sportorium UMY pada 2016. Di ArtJog 11 ia sempat memamerkan karya yang dibuat dari material bekas pakai, menunjukkan kesediaannya bereksperimen di luar kanvas konvensional meski identitas visualnya tetap dikenali.
Posisi komersial Nasirun dalam ekosistem seni rupa Indonesia tidak lazim untuk pelukis sekelas namanya. Ia menolak enam tawaran kontrak eksklusif dari galeri di berbagai negara sepanjang kariernya, memilih tetap independen meski itu berarti kehilangan jaringan distribusi internasional yang sudah mapan. Penolakan ini konsisten sejak reputasinya melejit pasca Reformasi hingga akhir hayatnya.
Independensi itu bukan sekadar sikap pasif. Nasirun dikenal aktif menyediakan kanvas dan alat lukis untuk seniman yang belum mapan, serta turut membantu mendistribusikan hasil penjualan karya mereka lewat jaringannya sendiri. Prinsip yang sering ia ulang, "opo gunane berkesenian tapi nggak ada gunanya" (apa gunanya berkesenian kalau tidak berguna bagi orang lain), menjelaskan langsung logika di balik praktik redistribusi itu.
Independensi ini berjalan beriringan dengan realitas pasar yang kontradiktif. Sejak 1997, harga karyanya melonjak drastis hingga sebagian pelaku pasar menjulukinya "seniman gorengan", istilah untuk karya yang valuasinya naik cepat karena spekulasi. Julukan itu menempel meski gaya visualnya, wayang terdistorsi berpadu mistisisme Jawa-Islam dan aksara Arab gundul, nyaris tidak berubah sejak pameran tunggal pertamanya di Solo pada 1993.
Ketegangan di sini nyata, bukan dicari-cari. Nasirun menolak dikendalikan galeri, tapi tetap tidak bisa mengendalikan bagaimana pasar sekunder menilai karyanya begitu namanya membesar. Dua penghargaan institusional, McDonald's Award dan Philip Morris Award, datang pada 1997, tahun yang sama dengan awal lonjakan harga itu.
Pengakuan institusional terhadap Nasirun sebenarnya cukup mapan. Kementerian Pendidikan menetapkannya sebagai maestro dalam program "Belajar Bersama Maestro" pada 2015, dan sepanjang tiga dekade berkarya ia menghasilkan sekitar 3.000 karya. Ia juga membangun koleksi pribadi selama dua dekade berisi sketsa Raden Saleh, sketsa Ki Hajar Dewantara, dan sejumlah patung monumental, yang kini tidak jelas status pengelolaannya.
Apa yang bisa dibaca dari kematian mendadak ini bukan sekadar kehilangan personal. Dua proyek besar, "Arundhati" yang otomatis berubah status dan pameran tunggal Museum OHD yang batal total, menunjukkan proyek pameran skala besar di ekosistem seni rupa Yogyakarta masih bertumpu pada relasi personal dengan satu figur, bukan pada struktur kelembagaan yang berdiri independen dari orangnya. Ketika figur itu tiada, proyek ikut runtuh tanpa mekanisme pengganti yang siap.
Model "maestro tunggal" ini rentan persis di titik paling krusial: transisi kepemilikan proyek dan arsip pasca kematian sang seniman. Tidak ada yayasan atau badan kuratorial permanen yang disebut dalam pemberitaan sebagai penerus otomatis pengelolaan koleksi pribadinya, termasuk sketsa-sketsa bersejarah yang ia rawat selama dua dekade. Kekosongan institusional ini persoalan struktural, bukan sekadar isu sentimental soal kehilangan sosok yang disukai banyak orang.
Nasirun membuktikan independensi dari galeri komersial bisa dijalankan tanpa mengorbankan kesuksesan pasar, tapi independensi personal itu tidak otomatis menjadi independensi institusional. Ekonomi paralel yang selama ini ia topang untuk seniman muda, penyediaan alat dan distribusi hasil penjualan, kini kehilangan penyokongnya tanpa mekanisme kelembagaan pengganti. Kekosongan itu, bukan sekadar kehilangan artistik, adalah konsekuensi struktural paling langsung dari kematiannya bagi ekosistem seni rupa Yogyakarta.