Sebelum direnovasi, Galeri Nasional jadikan karya Nasirun pameran perpisahan
Kementerian Kebudayaan akan menggelar pameran khusus karya mendiang Nasirun di Galeri Nasional sebagai pameran terakhir sebelum gedung itu direnovasi.
Kementerian Kebudayaan mengumumkan rencana pameran khusus karya mendiang Nasirun di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, lewat siaran pers pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Pameran ini digagas untuk memperingati 40 hari wafatnya maestro lukis asal Cilacap itu, yang meninggal dunia di Yogyakarta pada 1 Agustus 2026 di usia 60 tahun. Rencana ini penting bagi ekosistem seni rupa Indonesia karena pameran itu dirancang sebagai salah satu pameran terakhir di ruang pamer seni rupa utama milik negara ini, tepat sebelum gedung tersebut memasuki tahap renovasi.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan rencana pameran ini langsung kepada keluarga Nasirun saat menghadiri acara takziah di Yogyakarta pada Kamis, 20 Agustus 2026. Ia mengaku sudah mengenal Nasirun sejak belasan tahun, dan menyebut kepergian pelukis peraih Top Ten Indonesian Art Awards 1997 itu sebagai kehilangan besar bagi dunia seni rupa dan masyarakat Indonesia. Pengumuman resmi lewat siaran pers Kementerian Kebudayaan baru menyusul sembilan hari kemudian, pada 29 Agustus, saat kerangka pameran, termasuk koleksi yang akan ditampilkan, mulai dirumuskan bersama tim kementerian.
Dalam siaran pers itu, Fadli Zon menyatakan, "Kami berharap seluruh kebaikan dan kontribusi Nasirun selama hidupnya menjadi amal jariah serta almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT." Pernyataan ini menegaskan posisi pameran sebagai penghormatan personal kementerian, bukan sekadar agenda rutin kalender pameran negara. Nasirun dikenal luas lewat karya yang mendistorsi anatomi figur wayang untuk membicarakan kritik sosial dan relasi kekuasaan, seperti terlihat dalam pameran tunggalnya "Metajagad Nasirun" di Soboman Art, Yogyakarta pada 2021, dan "Perayaan Persahabatan" di Museum OHD, Magelang pada 2023.
Rencana pameran ini beririsan dengan wacana revitalisasi Galeri Nasional. Wacana itu sudah dibahas Fadli Zon bersama arsitek Andra Matin di kantor Kementerian Kebudayaan di Jakarta, dengan alasan fasilitas pameran dan penyimpanan koleksi negara ini dinilai belum memadai untuk skala arsip seni rupa nasional. Revitalisasi itu diklaim akan menjaga keaslian bangunan cagar budaya Galeri Nasional sembari membuatnya representatif, meski itu berarti ruang pamer utama milik negara ini akan menutup akses publik untuk sementara begitu pameran Nasirun rampung, dengan tanggal pasti yang belum diumumkan kementerian.
Memilih karya yang dikenal membongkar relasi kekuasaan lewat distorsi figur wayang sebagai penutup sebelum gedung ini direnovasi menempatkan warisan kritis Nasirun di pusat narasi transisi institusi, bukan sekadar jadi seremoni perpisahan. Pilihan itu mengikat legasi seorang pelukis yang sepanjang kariernya menyoal kekuasaan lewat idiom wayang dan spiritualitas tasawuf, ke citra baru yang hendak dibangun Galeri Nasional pascarenovasi, entah citra itu akan benar-benar mewarisi sikap kritis itu atau justru menjinakkannya jadi monumen resmi negara.