Eksplorasi Material & Proses

Etsa Baja dan Kain Bali: Mengabadikan Ingatan dalam Materialitas

Pameran "A Blur is A Memory" meninjau bagaimana Etza Meisyara mengukir suara pada baja dan Luh'De Gita merangkai memori Bali melalui material temuan.

Pameran berlangsung: 11 Juli – 11 September 2026  ·  Kurator: Savitri Sastrawan
Etsa Baja dan Kain Bali: Mengabadikan Ingatan dalam Materialitas
Foto via isaartgallery

Pameran duo "A Blur is A Memory" di ISA Art Gallery, Jakarta, menampilkan eksplorasi material Etza Meisyara dan Luh'De Gita terhadap ingatan. Etza Meisyara, seniman intermedial dari Bandung, mengoperasikan fotografi langsung sebagai alat awal sebelum menerapkan metodologi artistik personalnya. Prosesnya melibatkan transformasi resonansi suara, gerakan, dan performa yang cepat berlalu menjadi permukaan baja tahan karat yang terukir.

Etza menggunakan teknik etsa pada logam untuk mengabadikan resonansi pengalaman dan gerakan itu sendiri, menciptakan representasi visual dari suara dan tubuh. Salah satu karyanya, "Sonic Gesture," mengubah kesan sensorik antara penampil dan penonton menjadi baja tahan karat terukir, mengarsipkan suara instrumen musik, gerakan tarian, dan simfoni alam yang tidak berwujud. Pilihan baja tahan karat sebagai material menjadi fondasi untuk mengolah fenomena yang sifatnya efemeral, mengubahnya menjadi jejak fisik yang konkret.

Luh'De Gita, pelukis dari Bali, membangun lukisan bertekstur kaya dengan benda-benda temuan, mengkaji lanskap Bali yang berubah. Ia menggunakan foto arsip lama kampung halamannya dan koleksi foto pribadinya sebagai material sumber, mempertanyakan hubungan kuasa dan idealisasi pulau surga pasca-kolonial. Luh'De mengintegrasikan linen, gantungan baju, serta benda antik Bali dari toko kakek-neneknya dan toko suvenir lokal.

Material-material ini kemudian dipasang menyerupai tekstil, digantung atau dibalut, merujuk pada kain upacara Bali atau pajangan suvenir. Gestur penataan ini bukan kebetulan, melainkan cerminan bagaimana Bali telah direduksi menjadi komoditas estetika, diratakan menjadi citra lembut dan eksotis yang terlepas dari asal-usul budaya dan spiritualnya. Dengan demikian, benda sehari-hari dan material tekstil menjadi medium untuk mengurai narasi kolonialisme dan pariwisata.

Pilihan material kedua seniman ini berhasil menyampaikan gagasan ingatan yang kabur melalui kontradiksi fisik. Etza mengonfrontasi sifat efemeral suara dan gerak dengan kekerasan serta durabilitas baja tahan karat, menjadikan "blur" bukan sebagai ketiadaan, melainkan jejak yang diabadikan. Luh'De menempatkan material temuan yang rapuh dan sarat sejarah dalam konfigurasi yang menyerupai komoditas pariwisata, secara tajam mengkritik idealisasi Bali yang bergeser.

Praktik Luh'De dan Etza merefleksikan kecenderungan seniman Indonesia untuk tidak terjebak pada medium konvensional, melainkan memilih material berdasarkan kapasitasnya mengartikulasikan argumen. Penggunaan baja tahan karat dan benda-benda temuan menunjukkan pergeseran fokus dari estetika objek semata menuju materialitas sebagai agen wacana. Ini menegaskan bahwa eksplorasi material bukan hanya soal teknis, melainkan medium untuk meninjau ulang narasi dominan.