Kacatri: Transformasi Made Wiradana Melalui Panggilan Spiritual
Pameran "Kacatri" Made Wiradana di Santrian Art Gallery menegaskan transformasi artistik seniman via pengalaman spiritual Jero Mangku.
Narasi "Kacatri" oleh Made Wiradana di Santrian Art Gallery, Sanur, Bali, dari 10 Juli hingga 30 Agustus 2026, memproyeksikan pengalaman spiritual seniman sebagai Jero Mangku ke dalam bahasa visual yang tegas. Pameran tunggal ini, dikurasi oleh Made Susanta Dwitanaya, mengartikulasikan sebuah transformasi artistik yang berakar pada panggilan spiritual Wiradana. Konsep "Kacatri" sendiri merujuk pada takdir warisan, dimaknai sebagai pengalaman batin yang mengantar pada fase kehidupan baru.
Lukisan "Gambar, Tanda, Simbol" (mixed media di atas kanvas, 150x150 cm) menyambut pengunjung dengan kehadiran monumental. Permukaan kanvas menampilkan lapisan-lapisan pigmen yang tebal, membentuk tekstur kasar dan berlekuk. Garis-garis tegas dan bentuk-bentuk abstrak yang menyerupai aksara atau petroglif mendominasi komposisi, menciptakan kesan visual yang padat.
Karya ini secara fisik menawarkan jejak primitivisme Wiradana yang telah dikenal, terutama melalui penggunaan simbol-simbol prasejarah yang kuat. Penggunaan material campuran menegaskan kedalaman visual, mendorong pengamat untuk mendekat dan mengidentifikasi setiap torehan. Kehadiran karya ini menandai sebuah titik penghubung antara periode artistik lama sang seniman dengan arah kreatifnya yang kini bergeser.
Karya lain dalam pameran ini hadir dalam dua kategori visual yang berbeda. Kategori pertama didominasi oleh lukisan hitam dan putih dengan garis-garis tegas, menyerupai rerajahan, aksara spiritual atau gambar sakral Bali.
Wiradana secara sengaja membedakan penggunaan warna dan simbolnya dari rerajahan sakral tradisional, menciptakan nuansa mistis yang khas. Kategori kedua menampilkan sentuhan warna lain sebagai penyeimbang, memadukannya dengan figur-figur yang kuat.
Pameran "Kacatri" secara konseptual menghubungkan "Gambar, Tanda, Simbol" dengan gagasan kuratorial tentang "panggilan spiritual" atau takdir yang diwariskan. Karya ini berfungsi sebagai jangkar visual yang menunjukkan akar praktik Wiradana, sekaligus menegaskan transisi menuju ekspresi yang lebih matang. Jejak primitivisme yang kuat dalam lukisan tersebut menjadi metafora visual bagi pondasi spiritual yang mendalam.
Detail simbol prasejarah dan gestur ekspresif dalam "Gambar, Tanda, Simbol" memperkuat klaim ini. Simbol-simbol tersebut, meskipun universal, diinterpretasikan Wiradana melalui lensa pengalaman batinnya sebagai Jero Mangku. Ini bukan sekadar reproduksi simbol, melainkan internalisasi dan reinterpretasi visual dari sebuah perjalanan spiritual yang personal.
Kategori karya yang menyerupai rerajahan, dengan dominasi hitam dan putih serta garis tegasnya, memperlihatkan bagaimana Wiradana menerjemahkan praktik ritual sehari-hari. Garis dan komposisi ini bukan sekadar pola, melainkan representasi konkret dari pengalaman batin yang terus bertransformasi. Ini menunjukkan upaya seniman untuk mengartikulasikan spiritualitasnya tanpa jatuh pada reproduksi ikonografi tradisional secara harfiah.
Penggunaan warna lain dan figur yang kuat dalam kategori karya kedua sejak tahun 2024 mengimplikasikan evolusi dalam bahasa visual Wiradana. Pergeseran ini menunjukkan bahwa pengalaman spiritual tidak bersifat statis, melainkan dinamis dan terus menemukan bentuk ekspresi baru. Penyeimbangan antara tradisi dan inovasi menjadi ciri khas dari babak baru ini.
Pameran "Kacatri" menempatkan dirinya dalam praktik kuratorial Indonesia terkini melalui penekanannya pada narasi seniman yang berakar pada budaya lokal. Kurator Made Susanta Dwitanaya tidak sekadar menyajikan karya, tetapi membangun sebuah narasi yang menghubungkan pengalaman pribadi seniman dengan wacana seni rupa kontemporer Bali. Ini menghindari pendekatan kuratorial yang cenderung universalis dan lebih memilih kontekstualisasi budaya yang kuat.
Pameran ini kuat secara estetik karena konsistensi Wiradana dalam membangun identitas visualnya. Dia berhasil menolak estetika Barat yang sering mendominasi, bukan mencari inspirasi dari tradisi dan spiritualitas lokal Bali. Kedalaman tekstur, simbolisme yang kaya, dan gestur ekspresif menjadi bukti konkret dari keberhasilan ini.
Secara kuratorial, Dwitanaya berhasil menyajikan transformasi artistik Wiradana secara meyakinkan. Pameran ini tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga memetakan perjalanan seniman, menunjukkan bagaimana seni rupa kontemporer Bali dapat menemukan ekspresi baru. Konsistensi narasi dan visualnya tidak meninggalkan ruang untuk interpretasi yang dangkal.
"Kacatri" menyajikan transformasi artistik Made Wiradana sebagai pernyataan visual yang kohesif. Pameran ini menegaskan dialog dinamis antara tradisi, spiritualitas, dan praktik artistik masa kini dapat menghasilkan ekspresi seni rupa kontemporer yang kuat. Pameran ini menggarisbawahi bagaimana seni rupa kontemporer dapat mempertahankan relevansi kulturalnya, bahkan saat menghadapi tekanan homogenisasi pasar seni.