Umbi sebagai Arsip Identitas dalam Instalasi Jessica Soekidi di ARTJOG 2026
Jessica Soekidi menggantung umbi bertunas dan piramida terbalik di ARTJOG 2026, menjadikan pembusukan material bagian argumen tentang identitas.
"The Disco of Roots: A Rhizomatic Collective" karya Jessica Soekidi tampil di segmen Practica ARTJOG 2026, Jogja National Museum, Yogyakarta, berlangsung 19 Juni sampai 30 Agustus 2026. Instalasi ini terdiri dari tiga elemen fisik: umbi-umbian yang digantung dengan tunas yang sudah tumbuh, struktur piramida terbalik berlapis material reflektif, dan bentuk menyerupai totem. Ketiganya disusun sebagai satu rangkaian, bukan dipajang terpisah sebagai objek berdiri sendiri.
Tanah yang dipakai pada instalasi ini sebagian didatangkan langsung dari Banyuwangi. Elemen keramiknya dibuat dari lahan bekas tanam singkong, bukan tanah liat dari sumber generik. Pemilihan asal material ini membuat instalasi terikat ke geografi konkret, bukan cuma memakai umbi sebagai simbol abstrak tanpa jejak tempat.
Soekidi adalah arsitek lulusan Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, kelahiran 1987, yang menjalankan praktik ganda sebagai arsitek profesional dan seniman berbasis di Tangerang Selatan. Sebelum "The Disco of Roots", ia sudah mengeksplorasi analogi pertumbuhan biologis lewat seri "Growing: The Unseen Process", yang membahas pertumbuhan manusia lewat metafora benih dan tanah. Ia juga tercatat berkolaborasi dengan TACO menghadirkan karya "New Horizon" dari material bangunan di Art Jakarta 2025.
ARTJOG 2026 membagi karya pesertanya ke dua jalur kuratorial: Dialogus untuk karya kolaboratif lintas generasi, dan Practica untuk karya individu yang mengangkat praktik seni kontemporer secara mandiri. "The Disco of Roots" masuk jalur Practica, artinya instalasi ini dinilai kurator sebagai pernyataan praktik personal Soekidi, bukan hasil dialog bersama seniman lain. Posisi ini konsisten dengan cara kerja Soekidi selama ini, riset material yang ia jalankan sendiri lewat latar belakang arsitekturnya.
Pilihan umbi di ARTJOG 2026 melanjutkan pola itu: material yang dipakai bukan cuma indah dipandang, tapi punya proses biologis sendiri yang bisa diamati. Soekidi memilih umbi bukan sebagai objek dekoratif, melainkan sebagai unit penyimpan data biologis. "Umbi menjadi simbol karena ia bukan hanya makanan, tetapi juga benih yang menyimpan memori, sejarah, dan keberlanjutan generasi," katanya.
Umbi bekerja sebagai material karena sifat botaninya sendiri. Ia tumbuh di bawah tanah, tak terlihat sampai digali, lalu bertunas lagi kalau dibiarkan. Sifat ini yang dipetakan Soekidi ke gagasan identitas sebagai proses yang terus berjalan, bukan fakta yang selesai begitu lahir.
Struktur totem dalam instalasi ini sengaja dirancang untuk dibuka dan "dipanen" di akhir masa pameran. Cara ini menyamakan siklus pameran dengan siklus tanam, bukan cuma menjadikannya metafora verbal di teks kuratorial. Piramida terbalik berlapis material reflektif menambah lapisan itu, bentuknya memantulkan dan membalik bayangan tergantung arah cahaya yang jatuh.
Latar belakang arsitektur Soekidi ikut menjelaskan kenapa instalasi ini terasa seperti sistem, bukan kumpulan benda. Piramida terbalik butuh perhitungan struktural supaya beban material reflektifnya tidak jatuh ke bawah, sesuatu yang lebih akrab bagi arsitek dibanding seniman rupa konvensional. Kombinasi umbi organik dan struktur geometris presisi ini yang membedakan pendekatannya dari instalasi bertema pertanian yang biasanya lebih longgar secara bentuk.
Kekuatan karya ini ada pada konsistensi metafora dari bahan sampai bentuk penyajian. Umbi menyimpan tunas laten, piramida terbalik memantulkan bayangan yang berubah arah, totem menyimpan jeda waktu sampai panen. Ketiganya bicara soal sesuatu yang tersembunyi lalu muncul kembali, sehingga analoginya tidak berhenti di satu objek saja.
Titik lemahnya ada di durasi pameran yang panjang, dua setengah bulan. Umbi segar yang digantung berisiko membusuk atau mengering jauh sebelum konsep "panen" di akhir pameran tercapai secara utuh. Sejauh riset ini dilakukan, belum ada keterangan publik soal bagaimana Soekidi menangani risiko pembusukan itu selama pameran berjalan.
Kalau pembusukan itu memang dibiarkan terjadi apa adanya, ia justru memperkuat argumen karya: identitas yang "membusuk" dan berubah bentuk sebelum sempat dipanen utuh jadi bukti fisik dari klaim bahwa identitas tidak pernah selesai. Tapi kalau pembusukan ditangani lewat pengawetan atau penggantian umbi segar secara berkala, seperti lazim dilakukan instalasi berbahan organik di ruang pamer ber-AC, maka bagian paling jujur dari materialnya justru disembunyikan dari pengunjung. Belum ada dokumentasi publik yang menjelaskan mana dari dua skenario itu yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Praktik Soekidi mencerminkan kecenderungan yang mulai terlihat di kalangan seniman muda Indonesia: material organik berumur pendek dipakai justru karena keterbatasannya, bukan meski keterbatasannya. Batas waktu hidup material jadi bagian dari argumen karya, bukan cacat teknis yang perlu ditutupi dengan pengawetan. ARTJOG 2026 sendiri mengangkat tema dialog antargenerasi lewat kurasi Farah Wardani, dan karya Soekidi jadi salah satu contoh paling literal dari tema itu, identitas yang tumbuh, membusuk, lalu ditanam ulang.