DATALAND: Ketika Data Hutan Hujan Indonesia Jadi Aset Museum AI
Museum AI DATALAND milik Refik Anadol memakai data ekspedisi hutan hujan Indonesia untuk melatih algoritmanya, tanpa kredit institusi lokal yang jelas.
Refik Anadol membuka DATALAND pada 20 Juni 2026 di The Grand LA, kompleks rancangan Frank Gehry di kawasan budaya Grand Avenue, Los Angeles. Museum ini didirikan bersama Efsun Erkiliç, mitra kerja Anadol, dan diklaim sebagai museum seni AI pertama di dunia. Pameran perdananya, "Machine Dreams: Rainforest", memakai lebih dari setengah miliar titik data ekologis untuk menghasilkan visual yang terus berubah di lima galeri seluas 35 ribu kaki persegi.
Bangunan itu berisi Data Pavilion dengan 84 proyektor resolusi tinggi dan Infinity Room berdinding LED yang, dalam salah satu segmen, menceritakan ulang kepunahan spesies burung kolibri lewat data suara dan gambar. Total 1,5 miliar piksel dipakai untuk menyusun pengalaman lima galeri itu. Skala infrastruktur ini menegaskan bahwa DATALAND dirancang sebagai spektakel imersif, bukan ruang pameran konvensional dengan karya statis di dinding.
Data yang mengisi seluruh sistem itu bukan hasil generate dari teks prompt semata. Studio Anadol melakukan ekspedisi fisik ke 16 hutan hujan di seluruh dunia, memakai LiDAR dan fotogrametri untuk merekam struktur hutan, plus audio ambisonik dan rekaman suhu serta kelembapan tanah. Hasilnya diolah jadi Large Nature Model (LNM), yang diklaim Anadol sebagai model AI open-source pertama yang murni dilatih dari data alam, dilengkapi kemitraan data dengan Smithsonian, Cornell Lab of Ornithology, dan iNaturalist.
Klaim "murni dari data alam" itu justru jadi titik gugatan authorship. Kalau karya final disusun algoritma dari setengah miliar titik data yang dikumpulkan tim besar di 16 lokasi berbeda, pertanyaan siapa "pengarang" karya itu jadi kabur antara seniman individu, tim lapangan, dan sistem AI itu sendiri. Kritikus lewat esai di ArtCritic.com menyebut karya Anadol "empty cathedrals where algorithms replace thought", spektakel yang menggantikan pemikiran dengan visual megah tanpa argumen personal yang bisa dilacak ke satu tangan kreatif.
Thomas Brummett, seniman digital, secara terbuka menolak mengakui hasil kerja algoritmatik semacam ini sebagai seni dalam pengertian penuh. Nettrice Gaskins, sesama seniman AI, menyoroti risiko bias dan halusinasi visual yang muncul dari skala data sebesar itu, termasuk potensi stereotip yang lolos tanpa disadari di tengah volume data yang terlalu besar untuk dikurasi manual. Dua kritik ini datang dari sesama praktisi teknologi, bukan dari pihak yang menolak AI secara kategoris.
Pergeseran paling nyata ada di model sirkulasinya. DATALAND bukan museum non-profit dengan koleksi permanen, melainkan bisnis tiket berbayar 49 hingga 129 dolar AS yang menjual "pengalaman data" yang berubah setiap kali dikunjungi, bukan objek tetap yang bisa dilihat ulang persis sama. Karya di sini tidak selesai saat dipajang, ia terus diproses ulang oleh mesin selama museum buka, mengubah status karya dari benda jadi proses yang berjalan.
Pergeseran ini sejalan dengan sinyal dari Christie's Art + Tech Summit 2026, yang berlangsung pekan lalu, tempat direktur global Christie's menyatakan pasar sudah "post-NFT" dan mulai bicara soal seni digital lepas dari kerangka blockchain. Kolektor baru dari kalangan miliarder teknologi disebut mengejar "pengalaman", bukan sekadar kepemilikan objek. DATALAND, dengan model tiket dan pengalaman yang terus berubah, adalah contoh konkret dari pergeseran itu, dari karya sebagai aset yang dimiliki menjadi akses yang dibeli sekali pakai.
Ada argumen yang mendukung posisi Anadol sebagai perluasan wajar praktik artistik. Ekspedisi lapangan ke 16 hutan hujan bukan proses instan satu prompt, melainkan kerja riset material yang melibatkan kolaborasi dengan institusi ilmiah seperti Smithsonian, Getty Conservation Institute, dan Natural History Museum London. Untuk data dari Amazon, studio Anadol bahkan menyebut kolaborasi eksplisit dengan masyarakat Yawanawá, kerangka kerja yang lebih dekat ke praktik seniman lapangan ketimbang produksi gambar generik dari mesin semata.
Tapi argumen itu tidak otomatis menjawab tuduhan kekosongan kritis. Skala kolaborasi korporat Anadol, termasuk pemakaian infrastruktur Google Cloud dan kemitraan dengan Microsoft serta NVIDIA, membuat kritik soal "tech demo yang menyamar sebagai seni" sulit dibantah begitu saja. Rigor ilmiah dalam pengumpulan data tidak serta-merta menghasilkan argumen artistik yang tajam, dan harga tiket yang setara tontonan hiburan premium memperkuat kesan bahwa pengalaman visual jadi tujuan akhir, bukan sekadar medium untuk menyampaikan gagasan.
Indonesia masuk dalam radius isu ini lewat jalur yang jarang disebut media internasional secara eksplisit. Ekspedisi lapangan LNM mencakup hutan hujan di Indonesia, sejajar dengan Amazonia dan Australia, sebagai salah satu dari 16 lokasi tempat tim Anadol merekam data mentah rainforest yang kini jadi bahan baku visual di museum for-profit Los Angeles itu. Berbeda dari kasus Amazon yang secara eksplisit menyebut kolaborasi dengan masyarakat Yawanawá, sumber-sumber yang tersedia tidak mencantumkan institusi atau komunitas Indonesia mana pun yang dikreditkan atas kontribusi data itu.
Ketiadaan kredit itu bukan detail administratif kecil kalau ditempatkan dalam konteks bisnis yang menjual tiket 49 dolar untuk melihat hasil olahan data tersebut. Indonesia memegang salah satu kawasan hutan hujan tropis terbesar di dunia, sumber daya yang di sini berfungsi sebagai bahan baku mentah bagi karya komersial di luar negeri tanpa jejak kompensasi yang bisa dilacak balik ke pihak lokal. Ekosistem seni dan kerangka hukum data Indonesia belum punya preseden untuk kasus semacam ini, tempat lanskap alam diekstraksi jadi nilai artistik dan ekonomi di yurisdiksi lain.
Pertanyaannya bukan lagi soal apakah AI bisa jadi seniman, melainkan siapa yang berhak atas nilai ekonomi dari data yang diambil dari tempat tertentu di dunia. Kasus DATALAND menunjukkan bahwa perdebatan authorship dalam seni AI sudah bergeser dari "siapa yang menekan tombol generate" ke "siapa yang punya klaim atas bahan mentah yang membuat generate itu mungkin". Selama pertanyaan kedua ini belum terjawab, kasus semacam ekspedisi data ke hutan Indonesia akan terus muncul sebagai celah yang belum ada kerangka hukum atau etikanya.