Tinjauan & Catatan Kuratorial

Tropical Aliens: Eko Nugroho Sebarkan Satu Argumen ke Lima Medium

Pameran Tropical Aliens di Nadi Gallery Jakarta Barat menghadirkan 35 karya baru Eko Nugroho, memakai metafora alien untuk keterasingan warga dari negara.

Pameran berlangsung: 8 Juli - 2 Agustus 2026  ·  Kurator: Wahyudin
Tropical Aliens: Eko Nugroho Sebarkan Satu Argumen ke Lima Medium
Ilustrasi  ·  Foto: Wikimedia Commons

Tropical Aliens menghadirkan 35 karya baru Eko Nugroho di Nadi Gallery, kawasan Puri Kembangan, Jakarta Barat, berlangsung sejak 8 Juli hingga 2 Agustus 2026. Karya-karya yang dipamerkan mencakup lukisan kanvas, gambar di atas kertas, lukisan bordir, objek tiga dimensi, dan satu mural yang dibuat khusus untuk ruang galeri, seluruhnya dikerjakan Eko sepanjang 2024 sampai 2026. Dua karya kunci yang bisa diidentifikasi dari dokumentasi pameran adalah seri panel bernomor "Tropical Aliens #1" sampai "#5" yang menampilkan figur-figur alien berwarna-warni bergaya animasi, dan "The Usai" dari seri Abandoned Monument yang menampilkan sosok monumen terbengkalai.

Kurator Wahyudin menempatkan karya-karya ini sebagai kelanjutan eksplorasi visual yang sudah dibangun Eko selama lebih dari dua dekade, memadukan kosakata komik, motif batik dan wayang, budaya populer, dan estetika jalanan dalam satu bahasa rupa yang konsisten. Figur "alien tropis" di sini bukan makhluk fiksi ilmiah, melainkan metafora atas keterasingan warga dari negara dan renggangnya relasi antarmanusia di tengah masyarakat urban. Menurut Wahyudin, karya-karya ini tampak lucu dan jenaka pada pandangan pertama lewat humor dan satir, tapi menyimpan muatan kritik sosial yang lebih berat di baliknya.

Sebaran karya lintas lima medium sekaligus (kanvas, kertas, bordir, objek, dan mural) menegaskan bahwa keterasingan yang diangkat Eko ditempatkan sebagai kondisi yang menembus berbagai permukaan, bukan gejala satu bentuk seni saja. Penempatan mural spesifik lokasi berdampingan dengan objek tiga dimensi dan seri "The Usai" yang bertema monumen terbengkalai membuat karya tidak berdiri sebagai unit terpisah, melainkan meresap ke arsitektur ruang pamer itu sendiri. Liputan pameran ini konsisten menggambarkan suasana galeri yang tenang dan fotogenik, dengan akses gratis dan jam kunjung yang longgar, sehingga kritik sosial yang diusung tetap bisa diakses pengunjung yang tidak akrab dengan wacana seni kontemporer.

Yang masih bisa dipertanyakan datang dari sisi kuratorial, bukan dari sisi karya. Pernyataan publik yang beredar menekankan kesinambungan dengan praktik panjang Eko tanpa merinci secara spesifik apa yang membedakan karya periode 2024-2026 ini dari eksplorasi figur hibrida yang sudah muncul di pameran-pameran sebelumnya. Klaim kebaruan jadi sulit diuji dari sisi argumen kuratorial, meski secara visual dan spasial pameran ini tetap kuat berdiri sendiri tanpa perlu bersandar pada klaim itu.

Tropical Aliens berhasil sebagai perluasan skala dari praktik Eko, bukan sebagai pembaruan gagasan. Kekuatan pameran ini bukan pada kebaruan metafora "alien", melainkan pada keputusan menyebarkan satu argumen tentang keterasingan warga dari negara ke lima medium berbeda sekaligus, sebuah kerja kuratorial yang lebih menuntut ketimbang sekadar menambah jumlah karya di dinding galeri. Justru di titik itu pameran ini paling terasa sebagai kerja galeri dan kurator, bukan cuma etalase karya seniman yang sudah mapan.