Kembali ke STPI, Eko Nugroho Menandai Kekosongan Infrastruktur Cetak Indonesia
Eko Nugroho kembali residensi ke STPI Singapura setelah tigabelas tahun, menyingkap absennya institusi cetak seni rupa setara di dalam negeri.
Eko Nugroho kembali ke Singapore Tyler Print Institute (STPI) pekan ini, tigabelas tahun setelah residensi pertamanya di tempat yang sama melahirkan pameran yang membuka jalan kariernya ke panggung internasional. Pameran solonya, "Strange Monster View," dibuka 22 Agustus dan berlangsung hingga 10 Oktober 2026, menampilkan lebih dari 50 karya cetak baru hasil residensi kedua yang ia jalani di STPI sepanjang 2025. Yang dipertaruhkan bukan cuma reputasi personal: pameran ini jadi indikator apakah seniman Indonesia yang sudah mapan secara internasional masih perlu bergantung pada infrastruktur institusi asing untuk mengembangkan teknik barunya, tigabelas tahun setelah lompatan awal itu.
Dua karya yang paling banyak disorot dalam pameran ini adalah "We Watch Behind the Grass" dan "We Watch Behind the Bones," keduanya dibuat tahun 2025 lewat teknik screenprint dengan foiling dan flocking di atas kanvas linen. "We Watch Behind the Grass" mengangkat tema pengawasan lewat figur bertopeng yang mengintai dari balik rerumputan bergaya dekoratif. "We Watch Behind the Bones" menelusuri motif kemanusiaan di balik tindakan kekerasan, divisualisasikan lewat kerangka dan makhluk hibrida dalam warna-warna cerah nyaris psikedelik.
Kedua karya itu lahir dari observasi langsung Nugroho terhadap norma sosial Singapura selama residensi 2025, bukan riset jarak jauh dari studionya di Yogyakarta. STPI, institut percetakan seni rupa yang berdiri sejak 2002 dan dikenal lewat teknik cetak eksperimental, memfasilitasi eksplorasi medium yang jarang ia pakai di Indonesia: mokulito atau cetak kayu ala Jepang, terlihat pada karya "We Are Real Tourist" dan "Now Everyone Is Lost," serta pulp painting pada seri "Mapping the Peace System" yang memakai bentuk geometris berwarna neon. Proses ini butuh peralatan dan pelatih teknis yang tersedia di STPI, bukan sesuatu yang bisa ia bawa pulang begitu saja.
Pameran ini juga meluas keluar galeri: Nugroho membuat mural berskala besar di fasad gedung STPI di Robertson Quay dan intervensi seni di Stasiun MRT Fort Canning, memperluas jangkauan karyanya ke ruang publik Singapura tanpa tiket masuk. Rangkaian ini melengkapi pameran utama dengan program pendamping berupa artist talk bersama kurator independen John Tung, serta lokakarya teknik mokulito, screenprint, dan flocking untuk publik umum. Skala produksi ini -- lebih dari 50 karya plus mural dan intervensi ruang publik dalam satu residensi -- jauh melampaui kapasitas presentasi tunggal galeri komersial di Indonesia.
Posisi Nugroho dalam ekosistem seni rupa Indonesia hari ini bukan lagi soal pengakuan. Ia sudah berkolaborasi dengan Louis Vuitton pada 2013, lalu dengan Samsung, Oppo, dan IKEA, jauh melampaui validasi yang biasanya jadi pertaruhan seniman muda. Yang justru menonjol dari pola residensi berulang ke STPI adalah soal infrastruktur teknis: institut percetakan seni rupa dengan kapasitas eksperimental setara STPI, yang mengombinasikan mokulito, screenprint kompleks, dan pulp painting dalam satu fasilitas, tidak dimiliki Indonesia dalam skala serupa.
Nugroho, seniman kelahiran 1977 yang mengawali karier lewat mural jalanan di Yogyakarta pada era reformasi 1998, harus terbang ke Singapura untuk mengakses teknik yang studionya sendiri belum bisa fasilitasi. Residensi pertamanya di STPI, tahun 2012, menghasilkan pameran "We Are What We Mask" (2013) yang jadi salah satu titik lompatan pengakuan internasionalnya -- karya bermasker dan bertopeng yang sejak itu jadi ciri visual dominan sepanjang kariernya. Tigabelas tahun kemudian, alih-alih institusi cetak dalam negeri yang tumbuh menyusul reputasinya, Nugroho kembali ke fasilitas yang sama di kota yang sama.
Pola ini bukan cuma soal loyalitas personal ke satu institusi. Ia adalah data poin tentang ke mana seniman Indonesia paling mapan sekalipun masih harus pergi ketika butuh eksperimen teknis serius, dan tentang berapa lama jarak itu bisa bertahan tanpa ada padanan di dalam negeri yang menutupnya.
Dimensi lain yang layak dicatat adalah pergeseran sasaran kritik sosialnya. Di pameran tunggalnya di Nadi Gallery Jakarta pertengahan tahun ini, "Tropical Aliens," Nugroho memakai metafora alien untuk membahas keterasingan warga dari kebijakan negara Indonesia yang dianggapnya asing dan terputus dari rakyat. Di "Strange Monster View," sasarannya bergeser ke pengawasan teknologi dan norma sosial Singapura, konteks yang bukan miliknya, diamati dari posisi tamu residensi selama satu tahun penuh.
Kritik sosial Nugroho, dengan kata lain, cukup portabel untuk dipindah dari mengkritik negaranya sendiri ke mengamati negara tuan rumah begitu institusi tuan rumah yang mengundang. "Kesenian itu cair, kesenian itu sangat fleksibel," ujar Nugroho dalam salah satu wawancara tentang filosofi berkaryanya -- kalimat yang kini juga bisa dibaca literal soal ke mana dan untuk siapa kritiknya bisa mengalir.
Ada tegangan yang belum sepenuhnya selesai dalam lintasan ini. Nugroho memulai karier lewat proyek mural bersama warga di sepanjang Sungai Code, Yogyakarta, praktik seni berbasis komunitas yang akarnya jauh dari sirkuit galeri kelas dunia. Kini praktiknya berjalan paralel dengan kolaborasi merek global dan residensi di institusi percetakan elite seperti STPI, dua ekosistem yang tidak selalu punya logika yang sama soal siapa yang berhak mengakses seni dan bagaimana ia didanai.
Yang bisa dibaca dari fenomena ini bukan cerita personal Nugroho semata, melainkan gambaran soal ke mana kapasitas teknis seni cetak paling maju di kawasan ini terkonsentrasi. Selama institusi percetakan seni rupa Indonesia belum punya fasilitas riset-produksi setara STPI, seniman mapan sekalipun akan terus mengekspor eksperimen tekniknya ke luar negeri, dan pameran hasilnya, seperti "Strange Monster View," pertama-tama dinikmati publik Singapura, bukan publik Indonesia yang membesarkan nama Nugroho sejak era mural Sungai Code.
"Strange Monster View" akan tutup di Singapura pada 10 Oktober, dan sejauh ini tidak ada rencana publik untuk membawa rangkaian karya itu pulang ke galeri di Yogyakarta atau Jakarta. Kalau pola residensi 2012-2025 ini terus berulang tanpa padanan infrastruktur cetak di dalam negeri, generasi seniman Indonesia berikutnya yang ingin bereksperimen setara Nugroho kemungkinan akan menempuh rute yang sama: pergi dulu, baru pulang membawa nama besar.