Akal-Akalan di ArtSociates: Kekuatan dan Batas Premis Teknologi Sehari-hari
Pameran Akal-Akalan di ArtSociates Bandung menghadirkan 12 seniman Asia Tenggara yang mengubah barang bekas jadi robot dan instalasi bunyi kinetik.
Di ArtSociates Gallery, Jalan Dago Giri, Bandung Barat, Tisya Wong menebar serbuk arang hitam di lantai galeri, lalu melepas robot vacuum cleaner murah untuk menariknya membentuk pola garis berulang tanpa arah yang tetap. Yang Jie merakit sesosok robot dari cangkir kertas bekas, motor sederhana, kabel elektronik lepasan, dan mainan anak lama, bergerak kaku seperti rakitan garasi rumahan yang belum sepenuhnya jadi. Jompet Kuswidananto memasang instalasi berskala besar yang menggabungkan material budaya dengan motor penggerak dan perangkat elektronik, menghasilkan bunyi berulang yang memenuhi satu ruang pamer tempat pengunjung berjalan mengelilingi rangkaian benda itu dari segala sisi.
Gunalan Nadarajan dan Roopesh Sitharan, dua kurator yang sebelumnya membawa konsep serupa ke Malaysia dan Singapura, mendefinisikan akal-akalan sebagai kecerdasan kultural yang tumbuh dari kemampuan manusia mengatasi situasi rumit lewat solusi material praktis. Teks kuratorial menyebut karya-karya di pameran ini berspekulasi tentang potensi radikal praktik semacam itu untuk mengguncang cara kita membayangkan relasi dengan teknologi, ketimbang sekadar merayakan inovasi teknis untuk kepentingannya sendiri. Robot vacuum Wong dan rakitan cangkir bekas Yang Jie jadi contoh paling harfiah dari premis ini: perangkat domestik murah yang awalnya diproduksi massal untuk kebersihan rumah tangga, dipreteli dari fungsi aslinya, lalu dipasang ulang menjadi alat produksi gambar dan gerak di ruang pamer.
Kekuatan pameran ini paling terasa pada instalasi Jompet Kuswidananto. Berbeda dari karya lain yang berhenti pada trik "barang bekas jadi robot", Jompet menautkan material budaya dan mekanisme bunyi berulang ke isu identitas, ingatan personal, dan politik kebudayaan, bukan sekadar memamerkan kepandaian teknis merakit mesin. Ketegangan antara elemen kultural yang dikerjakan manual dan elemen mesin yang bergerak otomatis di karyanya membuat premis akal-akalan terasa punya taruhan konseptual yang tidak dimiliki karya-karya lain yang berhenti pada gimmick teknologi semata.
Yang masih bisa dipertanyakan justru karya interaktif Margaret Tan dan Frank Liiaw, di mana pengunjung mengunggah swafoto lewat kode QR, menunggu sistem AI memproses gambar itu, lalu memindai ulang untuk menghasilkan visual baru berdasarkan kategori identifikasi kesukuan yang dibuat sistem tersebut. Mekanisme ini bergantung penuh pada kategori yang dirancang pihak ketiga di balik model AI itu, bukan solusi material yang dirakit sendiri dengan tangan seperti karya Wong atau Yang Jie, sehingga hubungannya dengan definisi akal-akalan versi kuratorial jadi longgar. Karya ini terasa lebih dekat ke demonstrasi teknologi klasifikasi ketimbang praktik mengakali alat dengan tangan sendiri yang jadi inti argumen kuratorial pameran ini.
Akal-akalan berhasil sebagai pameran yang membuktikan gagasan sederhana bisa dieksekusi lewat objek sehari-hari yang nyaris tidak berharga, tapi keberhasilan itu tidak merata di seluruh dua belas seniman yang dilibatkan pameran ini. Karya-karya yang benar-benar merakit ulang benda dengan tangan, seperti milik Wong, Yang Jie, dan Jompet, jauh lebih meyakinkan menjalankan premis kuratorial dibanding karya yang menumpang pada sistem AI eksternal untuk menghasilkan efeknya. Kesenjangan itu justru menunjukkan bahwa akal-akalan, sebagai konsep, lebih kuat berfungsi sebagai kritik atas ketergantungan pada teknologi jadi, ketimbang sebagai payung kuratorial tunggal yang bisa merangkum segala jenis pendekatan teknologi tanpa pembedaan.