Lalu, Lagu Lalu Lalu: Gosokan Arang ikkibawiKrrr yang Belum Menjembatani Dua Situs
Pameran ikkibawiKrrr di ROH Jakarta menghasilkan jejak arang yang kuat secara metode, tapi belum menjembatani konteks Korea Selatan dan Sulawesi Tengah.
Lembar-lembar kain putih dipenuhi bercak dan goresan hitam tergantung di ruang pamer ROH, Jalan Surabaya 66, Jakarta Pusat, hasil gosokan arang langsung ke permukaan batu megalitikum yang lapuk di Sulawesi Tengah. ikkibawiKrrr, kolektif riset visual asal Korea Selatan yang beranggotakan Cho Jieun dan Ko Gyeol, menyebut teknik ini "rock n' feel", menyentuh waktu lewat kontak fisik dengan permukaan batu tua. Dari jarak dekat, bercak itu tampak sebagai tekstur kasar dan goresan acak, tapi dari jarak lebih jauh, pengunjung yang berjalan menyusuri deretan kain mulai mengenali bentuk-bentuk familiar yang muncul di permukaannya.
Esai kuratorial "Practising Skinship" oleh Denise Lay membingkai gosokan arang itu bukan sebagai reproduksi visual, melainkan sebagai kontak kulit dengan ingatan leluhur yang sudah kehilangan tempat fisiknya. Riset ikkibawiKrrr menghubungkan dua lokasi yang terpisah laut, Korea Selatan dan Sulawesi Tengah, lewat premis bahwa komunitas di kedua tempat mempertahankan hubungan dengan leluhur lewat kedekatan fisik dengan tanah dan batu, bukan lewat pelestarian warisan yang formal. Wawancara pendamping, "The Trace That Lingers" oleh Min Sun Jeon, menegaskan riset ini dikembangkan dalam hubungan berkelanjutan dengan komunitas setempat, bukan kunjungan sekali jalan.
Kekuatan pameran ini ada pada penolakannya terhadap dokumentasi lurus. Gosokan arang tidak merekam batu secara akurat, ia cuma menangkap apa yang tersentuh tangan pada satu momen kontak, sehingga tiap lembar kain jadi catatan pertemuan, bukan salinan objek. Yang masih bisa dipertanyakan adalah keseimbangan porsi cerita, sebab materi kuratorial yang beredar lebih banyak menjelaskan metode "rock n' feel" itu sendiri ketimbang konteks situs megalitik Sulawesi Tengah yang jadi sumber materialnya.
Pameran ini juga melanjutkan presentasi ikkibawiKrrr di Art Basel 2026, Swiss, tempat kolektif ini pertama kali memamerkan hasil riset yang sama, sebelum dibawa lebih lengkap ke Jakarta. Nama ikkibawiKrrr diambil dari gabungan kata Korea untuk lumut dan batu, mencerminkan cara kerja kolektif ini yang meniru taktik bertahan hidup lumut: menempel lama pada satu permukaan sebelum berpindah ke lokasi riset berikutnya. Pendekatan itu konsisten dengan karya sebelumnya seperti Seaweed Story (2022) tentang penyelam perempuan Pulau Jeju dan Rocks Living in Rewind di Art Sonje Center Seoul, yang juga bertumpu pada riset lapangan jangka panjang.
Lalu, Lagu Lalu Lalu berhasil sebagai eksperimen metode: gosokan arang di atas batu lapuk menghasilkan jejak yang tidak bisa digantikan foto atau video dokumentatif apa pun. Tapi ia belum berhasil sebagai jembatan antara dua situs riset yang jauh berjarak, sebab pengunjung Jakarta yang tidak akrab dengan konteks megalitik Sulawesi Tengah maupun praktik spiritual Korea Selatan harus menebak sendiri apa yang menghubungkan keduanya di luar teknik gosokan itu.