Yogya Annual Art #11: Arah yang Diuji dari Dalam Kampus Sendiri
Yogya Annual Art #11 di Sangkring menyandingkan panel mini Wayan Sujana Suklu dan kanvas raksasa Kun Adnyana, tapi arah barunya diuji dari dalam kampus.
Wayan Sujana Suklu menghadirkan 30 panel akrilik berukuran 30 x 30 sentimeter di Bale Banjar Sangkring, terbagi dalam dua seri berjudul "Kisah Ingatan Kanak-Kanak" dan "Kisah Warna Sekitar", masing-masing 15 panel yang digantung berjajar rapat. Setiap panel memakai garis tipis dan warna pastel, biru, hijau, abu-abu, cokelat, oranye, krem, merah, kuning, untuk menggambar ikon sederhana seperti rumah, awan, matahari, bunga, burung, dan jamur berwajah imajiner. Di ruang yang sama, Kun Adnyana memajang dua kanvas akrilik besar berukuran 180 x 180 sentimeter, "Enigmatic Red Polych" dan "Enigmatic Deep Red", dengan sapuan kuas tebal berlapis dan dominasi warna merah, oranye, kuning yang diselingi aksen biru gelap, sehingga pengunjung yang baru saja menunduk mengamati deretan panel mini Suklu langsung disergap skala penuh tubuh begitu berbelok ke sisi kanvas Kun Adnyana.
Pernyataan kuratorial pameran, ditulis Nadiyah Tunnikmah, mengangkat arah sebagai proses kemenjadian yang terbangun dari jalinan ingatan personal maupun sosial, dan kontras dua karya ini justru memperlihatkan dua arah berlawanan dari tema itu. Suklu mengambil arah ke dalam, mengecilkan skala panel sampai seukuran genggaman untuk menahan ingatan masa kecil yang rapuh dan spesifik. Kun Adnyana mengambil arah sebaliknya, membesarkan kanvas hingga mendekati skala tubuh untuk mengubah ingatan warna jadi pengalaman ruang yang menenggelamkan pengunjung.
Kekuatan pameran ini ada pada keberanian menyandingkan dua skala ekstrem itu dalam satu ruang tanpa kehilangan benang tema, sesuatu yang jarang berhasil dalam pameran kelompok besar dengan puluhan karya berjejalan. Yang masih bisa dipertanyakan adalah komposisi pesertanya: seluruh peserta Yogya Annual Art #11 adalah dosen seni dari ISI Yogyakarta dan ISI Bali, sehingga arah baru yang diklaim tema pameran ini sebenarnya diuji dari dalam lingkaran institusional yang sama, bukan dari suara di luar kampus yang mungkin membawa risiko lebih besar.
Karya Wayan Setem, "Sulur-sulur Kehidupan", menguatkan kesan itu dari sisi lain: dua panel akrilik berukuran 200 x 110 sentimeter ini memakai motif sulur floral kuning keemasan dan turquoise dengan satu garis merah vertikal yang membelah komposisi, dibaca kritikus sebagai rujukan pada axis mundi, poros yang menghubungkan bumi dan langit dalam kosmologi Bali. Pembacaan itu bersandar pada kerangka Tri Hita Karana, prinsip keseimbangan manusia-alam-Tuhan yang sudah mapan dalam wacana seni Bali kontemporer, bukan kerangka baru yang ditawarkan pameran ini sendiri.
Pameran ini berhasil sebagai demonstrasi teknis: kontras skala antara panel mini Suklu dan kanvas raksasa Kun Adnyana adalah kurasi visual yang matang, efektif menyampaikan gagasan arah sebagai spektrum, bukan garis lurus. Tapi sebagai pernyataan tentang ke mana seni rupa Yogyakarta akan melangkah, Yogya Annual Art #11 lebih tepat dibaca sebagai laporan kondisi mapan ISI Yogyakarta dan ISI Bali hari ini, bukan pratanda arah generasi berikutnya.