Residu Tambang dan Jelaga: Nidiya Kusmaya Ubah Pencemaran Jadi Pigmen
Nidiya Kusmaya mengolah tanah tercemar tambang dan jelaga cerobong jadi pigmen dalam pameran tunggalnya "Meramu Sisa" di Galeri Ruang Dini, Bandung.
Nidiya Kusmaya menggelar pameran tunggal pertamanya, "Meramu Sisa", di Galeri Ruang Dini, Jalan Anggrek, Cihapit, Bandung, 3-31 Juli 2026. Materialnya bukan cat komersial, melainkan pigmen yang diolah dari residu mineral: tanah, batu, jelaga cerobong asap, dan cangkang telur. Sumbernya beragam, dari pesisir Awajishima di Jepang dan kawasan vulkanik Pozzuoli di Italia, sampai Makroman di Kalimantan Timur, tempat ia mengambil tanah merah sawah yang tercemar bekas tambang batubara.
Material-material ini dikumpulkan langsung dari lapangan, bukan dibeli sebagai bahan seni jadi dari toko. Ia juga memakai abu karbon dari pembangkit listrik tenaga uap batubara di Sukabumi, kota kelahirannya yang masih ia tinggali sampai sekarang. Bahan mentah itu digiling dan diolah jadi pigmen, lalu diaplikasikan di atas kertas kapas, proses yang menurutnya sudah ditekuni 12 tahun sejak masa studi kriya tekstil di Institut Teknologi Bandung, 2009-2012.
Salah satu karya di pameran ini, "Cigaru Brown Cijiwa Yellow Sukabumi, Jawa Barat", berupa lembar kertas berwarna cokelat kemerahan seperti bata dengan garis tepi kuning, hasil pigmen dari dua titik pengambilan sampel tanah di Sukabumi. Judul itu bukan nama estetik, melainkan koordinat: ia menandai persis lokasi asal warnanya. Pola penamaan yang sama berlaku di sejumlah karya lain di pameran ini, tempat pengambilan sampel jadi bagian dari identitas karya, bukan cuma keterangan teknis di label dinding.
Nidiya memilih residu, bukan pigmen sintetis, karena kegelisahannya soal pencemaran dari pewarna tekstil konvensional. Ketertarikan itu bermula dari masa studi kriyanya di ITB, saat ia melihat langsung bagaimana limbah pewarna sintetis mencemari sumber air di sentra-sentra tekstil. Menurut penuturannya, air bekas cucian di salah satu lokasi pengambilan sampelnya berubah kekuningan karena kandungan mineral dalam tanah setempat.
Ia juga menceritakan bagaimana padi di sawah Makroman tumbuh kerdil dengan daun memerah akibat tanah yang tercemar bekas tambang batubara, sumber tanah merah yang justru ia pakai sebagai pigmen. Pameran tunggal pertamanya ini bukan titik awal riset itu. Pada 2021 ia sudah memamerkan penelusuran awal soal material tekstil alternatif lewat pameran "Berburu dan Meramu", dan karya "Jelaga di atas Kertas" (2023) memakai jelaga cerobong asap sebagai pigmen utama.
Sifat fisik residu ini yang membedakannya dari cat komersial: warnanya tidak stabil dan tidak bisa direplikasi persis dari satu batch ke batch lain, karena kandungan mineral tiap lokasi berbeda. Ketidakstabilan itu justru jadi argumen konseptual utama pameran ini. Tanah tercemar dari Makroman yang menghasilkan warna merah bukan sekadar pigmen, tapi arsip fisik dari kerusakan ekologis di lokasi itu, warnanya adalah data, bukan dekorasi.
Cara kerja ini berhasil justru karena Nidiya tidak menyembunyikan asal-usul kotor materialnya di balik hasil akhir yang estetis. Judul karya yang menyebut nama lokasi pengambilan sampel secara harfiah memaksa pembacaan karya kembali ke titik geografis asalnya, bukan berhenti di permukaan warnanya saja. Ini strategi yang lebih tajam ketimbang sekadar memakai material alami sebagai gestur ramah lingkungan tanpa jejak yang bisa dilacak balik ke sumbernya.
Kelemahannya, sebagian narasi asal material seperti kasus Pozzuoli dan Awajishima memerlukan keterangan dinding pameran atau riset tambahan pengunjung untuk dipahami konteksnya. Warna itu sendiri tidak otomatis membawa cerita spesifik lokasinya tanpa teks pendamping, beda dengan karya-karya bersumber Indonesia yang konteks pencemarannya lebih mudah ditangkap lewat nama tempat yang disebut langsung di judul. Kesenjangan legibilitas ini bukan cacat fatal, tapi menunjukkan batas metode residu-sebagai-narasi kalau berdiri sendiri tanpa perangkat kuratorial pendukung.
Praktik Nidiya juga menandai pergeseran konteks, bukan cuma pergeseran medium. Risetnya soal pewarna alami dimulai dari ranah kriya tekstil pada 2021, ranah yang biasanya dinilai lewat fungsi dan keberlanjutan bahan. Di "Meramu Sisa", riset yang sama dipindahkan ke ranah galeri seni rupa, tempat kriteria penilaiannya bergeser ke argumen konseptual dan bukan lagi soal kelayakan pakai bahan sebagai pewarna tekstil.
Pergeseran ini menunjukkan kecenderungan yang makin terlihat pada sejumlah perupa muda Indonesia: material bukan lagi sekadar alat, melainkan objek penelitian yang punya sejarah dan lokasi sendiri. Kecenderungan ini berbeda dari eksperimen material generasi sebelumnya yang lebih sering menonjolkan tekstur atau kebaruan visual semata, ketimbang menelusuri asal-usul bahan sampai ke titik kerusakannya. Yang dipertaruhkan Nidiya adalah pertanyaan soal siapa yang berhak mengklaim warna suatu tempat setelah tempat itu rusak oleh eksploitasi tambang atau industri, dan pertanyaan itu belum ia jawab tuntas lewat karya-karyanya sejauh ini.