Kulit Kayu dari Lembah Bada: TEMPA Rajut Arsip Leluhur Kaili
TEMPA mengolah kain kulit kayu dari Lembah Bada, buatan perempuan Sulawesi Tengah, jadi kanvas untuk menelusuri silsilah leluhur Kaili di ARTJOG 2026.
TEMPA, kolektif seni asal Yogyakarta yang digawangi Rara Kuastra dan Putud Utama, menghadirkan instalasi 25 laci kayu berpasangan dengan rangkaian lukisan akrilik di atas kain kulit kayu Sinjulo untuk ARTJOG 2026. Kain ini berasal dari Lembah Bada, kawasan megalitik di Sulawesi Tengah, dibuat dari kulit pohon malo yang dipanen tanpa menebang pohonnya. Di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah, kain sejenis ini punya nama lokal sendiri, seperti fuya di Kulawi.
Dahan pohon malo dipilih dan dikuliti, lalu dipukul berulang dengan alat khusus sampai melebar dan menipis jadi lembaran berwarna krem. Setelah itu kain direndam, dikeringkan, dan diberi motif tradisional. Seluruh proses memakan waktu hingga dua minggu dan dikerjakan perempuan lokal di Sulawesi Tengah, bukan oleh TEMPA sendiri di studio Yogyakarta.
Kain kulit kayu dulunya dipakai sebagai pakaian sehari-hari di Sulawesi Tengah sebelum tekstil modern masuk ke wilayah itu. Kini kain ini terutama muncul dalam konteks upacara, dan para pembuatnya di Kulawi, Lembah Bada, dan Lore memandangnya sebagai pengetahuan yang diwariskan lintas generasi. TEMPA memakai bahan yang statusnya sudah bergeser dari pakaian harian jadi objek bermuatan sejarah ini sebagai kanvas.
Rara adalah keturunan suku Kaili. Riset untuk karya ini membawa TEMPA ke Lembah Bada, tempat mereka menemukan rumah leluhur keluarga Rara sekaligus bertemu peneliti lokal yang memperkenalkan kain kulit kayu itu. Putud menjelaskan alasan proyek ini: "Kami mencoba reconnect lagi dengan keluarga dan leluhur Rara di Sulawesi Tengah."
TEMPA sendiri dikenal bekerja tanpa pembagian hierarkis antara Rara dan Putud, saling menambah dan mengedit sketsa satu sama lain sampai karya jadi. Cara kerja kolektif ini punya kesejajaran dengan proses pembuatan kain kulit kayu yang mereka pakai, yang juga dikerjakan komunal oleh perempuan Sulawesi Tengah, bukan oleh satu pengrajin tunggal. Kesejajaran itu bukan kebetulan estetis, melainkan konsekuensi dari memilih material yang cara produksinya sendiri sudah kolektif.
Permukaan kain kulit kayu tidak rata. Seratnya kasar, warnanya krem alami yang tidak seragam, dan jejak pukulan alat masih terasa di teksturnya. Ketidaksempurnaan fisik itu jadi bidang yang pas untuk tema karya, yaitu silsilah Kaili yang berpusat pada leluhur dari Kerajaan Dolo yang melawan pendudukan Belanda dan Jepang.
Dua puluh lima laci kayu dalam instalasi ini menampung fragmen riset itu satu per satu. Bukan sebagai artefak yang utuh, laci-laci itu berfungsi sebagai ingatan yang harus dibuka dan disusun ulang pengunjung sendiri. TEMPA sendiri menyebut riset silsilah ini masih berupa temuan awal, dan penelusuran lebih dalam masih akan menyusul.
Pilihan material ini bekerja karena tidak berhenti di level dekoratif. Proses pembuatan kain, yang dikerjakan perempuan Sulawesi Tengah dan bukan direplikasi sendiri oleh TEMPA, membuat rantai produksi karya ini sejajar dengan sumber pengetahuannya, bukan sekadar meminjam motif dari komunitas Kaili tanpa melibatkan mereka. Ketegangan yang mungkin muncul, yaitu dua seniman Yogyakarta mengangkat material dari luar konteks aslinya ke ruang pameran kontemporer, diredam oleh riset lima bulan (tiga bulan konseptualisasi, dua bulan produksi) dan koneksi genealogis Rara sendiri ke Kaili.
Ini bukan proyek etnografi dari pihak luar yang datang tiba-tiba lalu pergi setelah pameran usai. TEMPA sebelumnya membangun praktik lintas material, dari kanvas, kayu, hingga logam kuningan dan aluminium, tapi karya-karya lama mereka seperti "Authentic Domestic" (2022) dan "Mindful Energy Series" (2022) tetap memakai kanvas dan kain sebagai bidang lukis konvensional. Kulit kayu Lembah Bada jadi lompatan pertama TEMPA ke material yang produksinya sendiri terikat pada satu komunitas dan satu silsilah keluarga.
Format ini menunjukkan pergeseran kecil tapi jelas dalam cara sebagian seniman Indonesia memilih material: bukan lagi soal tekstur atau kebaruan visual semata, melainkan soal menjadikan proses produksi material itu sendiri sebagai bagian dari argumen karya. ARTJOG 2026, di bawah kurasi Farah Wardani dengan tema besar Generatio tentang relasi antargenerasi, mendapat salah satu perwujudan paling konkret dari tema itu justru lewat pilihan bahan TEMPA, bukan lewat citra yang dilukis di atasnya. Pendekatan berbasis riset genealogis dan kolaborasi produksi seperti ini masih terikat pada momentum satu pameran besar, dan belum ada indikasi metode ini akan berlanjut ke proyek TEMPA berikutnya di luar ARTJOG 2026.