Knitwork: Irmandy Wicaksono Merajut Gunungan dari Benang Konduktif di ARTJOG
Irmandy Wicaksono meraih Young Artist Award ARTJOG 2026 lewat Knitwork, instalasi tekstil rajut berbenang konduktif berbentuk gunungan wayang.
Knitwork karya Irmandy Wicaksono meraih Young Artist Award ARTJOG 2026, satu dari tiga karya terpilih dari 19 seniman muda di bawah usia 35 tahun yang lolos seleksi terbuka tahun ini. Dua penerima penghargaan lain adalah Eldine Syifa lewat Laboratory of Play: Still Live dan Oberlan Luna lewat Your Recovery Is Not Required. Karya-karya YAA dipamerkan berdampingan dengan karya 25 seniman dan kolektif undangan dalam tema besar Ars Longa: Generatio yang dikuratori Farah Wardani.
Knitwork terdiri dari enam panel tekstil berdiri, masing-masing setinggi 720 sentimeter dan lebar 100 sentimeter, saling terhubung membentuk satu instalasi. Bahan dasarnya benang poliester daur ulang dari botol plastik bekas dipadukan spandex, benang termoplastik, dan benang konduktif. Semua dirajut memakai mesin rajut digital flat-bed dan sirkular, bukan alat tenun manual.
Knitwork adalah kelanjutan dari Living Knitwork Pavilion, instalasi yang lebih dulu dipamerkan di Burning Man, Nevada, tahun 2023. Pavilion itu berbentuk piramida dua belas sisi setinggi 18 kaki dan lebar 26 kaki, tersusun dari 12 kelopak kain dengan masing-masing 90 relief tekstil. Enam puluh persen benangnya berasal dari botol plastik daur ulang, dan karya itu meraih Black Rock City Honorarium tahun yang sama.
Riset yang mendasari teknik ini, bernama 3DKnITS, menanam matriks sensor piezoresistif langsung di benang yang resistansi listriknya berubah saat ditekan. Data tekanan itu diproses seperti gambar digital, lalu dibaca sistem yang mengenali gerakan dan pose tubuh dengan akurasi tinggi. Di Knitwork, prinsip serupa dipakai lewat sensor electric-field seperti pada theremin, mengubah gerak dan sentuhan pengunjung jadi bunyi dan cahaya yang berubah langsung.
Wicaksono, insinyur dan seniman kelahiran Indonesia yang kini mengajar di National University of Singapore, memilih tekstil karena bahan ini dipakai setiap hari tapi kerumitan kerajinan dan rekayasanya jarang disadari orang. Saat memaparkan proyek Living Knitwork Pavilion, ia menyebut tekstil sebagai material yang memberi kelenturan dan kualitas dinamis pada ruang, berbeda dari material keras arsitektur konvensional. Ia juga menyatakan ingin menyambungkan praktik tekstil tradisional negaranya dengan riset yang dipelajarinya di luar negeri.
Di ARTJOG 2026, sambungan itu diwujudkan lewat bentuk gunungan, elemen wayang kulit yang menandai momen transisi dan pergantian adegan. Struktur rajut tiga dimensi memungkinkan tekstur taktil dan relief kain yang menyerupai ukiran, tapi diterjemahkan ke material lunak dan responsif, bukan kayu atau batu yang diam. Kelenturan benang jadi metafora literal, gunungan yang biasanya diam di layar wayang di sini bergerak, berbunyi, dan bereaksi terhadap tubuh penonton.
Kombinasi ini berhasil di satu titik penting, sensor dan estetika tidak dipisah. Benang konduktif bukan komponen elektronik yang disembunyikan di baliknya, ia bagian dari pola rajutan yang sama yang membentuk relief visual karya.
Tapi ada celah yang belum terjawab dari riset yang tersedia. Apakah bentuk gunungan di sini benar-benar dioperasikan sebagai konsep transisi budaya, atau sekadar kerangka naratif yang ditempelkan pada instalasi teknologi yang desainnya sudah rampung sejak versi Burning Man, tetap belum jelas dari materi publikasi karya ini.
Perbandingan dengan batik atau tenun ikat, dua praktik tekstil Indonesia yang bertumpu pada tangan, waktu, dan pengetahuan yang diwariskan turun-temurun, jadi relevan di titik ini. Knitwork membalik logika itu, pengetahuan material dikodekan lebih dulu dalam algoritma mesin rajut, baru kemudian dibentuk jadi motif budaya seperti gunungan. Pergeseran dari tangan ke mesin ini bukan soal otentisitas, tapi soal siapa yang punya akses ke laboratorium riset dan mesin rajut industri semacam ini.
Knitwork lahir dari laboratorium riset material di MIT, bukan sanggar tekstil Indonesia, dan itu titik yang layak dicatat. Semakin banyak seniman Indonesia yang berkarya lewat institusi sains dan desain internasional membawa kembali kerangka kerja rekayasa material ke motif dan bentuk lokal, bukan sebaliknya. Pola ini menandai arah baru eksperimen material Indonesia, dari tangan yang mengolah bahan mentah menjadi kode dan mesin rajut yang menerjemahkan bentuk budaya jadi struktur berbasis data.