Intan Anggita Pratiwie Ubah Limbah Kain Jadi Hutan Suci di ARTJOG
Seniman Intan Anggita Pratiwie mengubah 70 persen limbah tekstil jadi instalasi hutan suci Leuweung Salira di ARTJOG 2026, mengkritik fast fashion.
Di tengah ruang pamer Jogja National Museum, sebuah instalasi berbentuk hutan tersusun dari lembar demi lembar kain bekas yang menjuntai dari langit-langit menuju lantai, membentuk lorong-lorong sempit berlapis warna yang harus dilewati pengunjung satu per satu untuk merasakan kerimbunannya dari dekat. Karya berjudul "Leuweung Salira" ini digarap seniman Intan Anggita Pratiwie untuk ARTJOG 2026 bertema "Ars Longa: Generatio" yang dikurasi Farah Wardani dan berlangsung 19 Juni hingga 30 Agustus di Jogja National Museum, dengan sekitar 70 persen materialnya berasal dari limbah tekstil sisa produksi busana, termasuk potongan kain dari lini mode perancang Ivan Gunawan yang biasanya berakhir sebagai sampah pabrik. Tiap helai kain itu dicelup ulang dengan pewarna alami sampai memunculkan gradasi hijau tua dan cokelat tanah yang tidak pernah benar-benar seragam antar helai, warna yang sengaja dipilih Intan agar instalasi terasa seperti kanopi hutan sungguhan dengan cahaya yang jatuh tak merata, bukan sekadar rak kain yang digantung rapi.
Pilihan pada limbah tekstil bukan kebetulan. Intan sudah bergelut dengan isu fesyen berkelanjutan sejak 2004 di masa kuliah, lalu pada 2012 mendirikan lini pakaian yang memadukan denim dengan tenun ikat berbahan sisa produksi, sebelum tujuh tahun kemudian mengubahnya jadi lini upcycled penuh dan ikut membesarkan Setali Indonesia, gerakan sosial yang mengajak publik menyumbangkan pakaian tak terpakai untuk dijual ulang atau diolah kembali. Baginya kain sisa bukan cuma bahan gratis yang kebetulan tersedia, melainkan jejak material dari industri fast fashion yang selama ini dianggap tak berharga begitu keluar dari lini produksi, sehingga menyusunnya kembali jadi instalasi berskala ruang penuh membalik status kain limbah itu dari residu jadi subjek utama yang harus dihadapi langsung oleh pengunjung, bukan disembunyikan di gudang pabrik.
Judul "Leuweung Salira" sendiri diambil dari bahasa Sunda yang secara harfiah berarti hutan milik diri sendiri, merujuk pada ajaran kuno Patanjala tentang sistem pengelolaan air tradisional yang menekankan etika menjaga ekosistem sebagai bagian dari menjaga diri sendiri. Tekstur kain yang kasar dan tidak seragam, sisa jahitan yang masih terlihat jelas, serta warna yang tidak rata karena proses pencelupan alami justru sengaja dipertahankan Intan, bukan disamarkan dengan pewarna sintetis yang lebih rata, sebagai penanda bahwa material ini pernah punya riwayat pakai sebelum berubah wujud jadi hutan. Ketidaksempurnaan itulah yang membuat "Leuweung Salira" terasa berbeda dari instalasi hijau dekoratif biasa, karena setiap serat kain di dalamnya menyimpan jejak proses produksi massal yang justru sedang dikritik oleh karya ini sendiri.
Sejauh ini pendekatan Intan terbukti berhasil menembus lintas dunia, bukan cuma bertahan di ruang galeri seni rupa. Tak lama setelah dipamerkan di ARTJOG, instalasi ini dibawa langsung oleh Ivan Gunawan ke Pagelaran Fashion Nusanova pada 3-7 Agustus 2026 di D Gallerie, kawasan Barito, Jakarta Selatan, sebuah sirkulasi yang jarang terjadi untuk karya seni rupa dan menunjukkan bahwa isu limbah tekstil ini punya daya tarik yang melampaui ruang galeri semata hingga masuk ke panggung mode. Namun keberhasilan lintas dunia itu tidak otomatis membuat karya ini mudah dicerna semua orang; sebagian penonton yang mengomentari dokumentasi karya ini di media sosial mengaku kesulitan menangkap gagasan di balik rangkaian kain tersebut tanpa lebih dulu membaca keterangan kuratorial, sebuah ketegangan umum pada instalasi berbasis material daur ulang karena kekuatan konseptualnya sering bertumpu pada teks pendamping, bukan semata pada bentuk visual yang bisa berdiri sendiri.
Praktik semacam ini menambah daftar seniman Indonesia yang mulai menjadikan limbah industri sebagai bahan baku utama karya, bukan sekadar aksen daur ulang di pinggir karya konvensional, sejalan dengan menguatnya wacana ekonomi sirkular di kalangan pelaku mode dan seni rupa dalam negeri belakangan ini. Kolaborasi lintas disiplin antara Intan dan perancang busana seperti Ivan Gunawan juga menandakan bahwa batas antara dunia mode dan seni rupa kontemporer di Indonesia kian cair, terutama ketika keduanya sama-sama didesak isu keberlanjutan lingkungan dari arah yang berbeda. Ke depan, tantangan terbesar praktik semacam ini bukan lagi soal ketersediaan bahan limbah yang justru makin melimpah seiring industri fesyen tumbuh, melainkan bagaimana menjaga agar gagasan kritis di baliknya tidak tenggelam oleh daya tarik visual materialnya sendiri.