Eksplorasi Material & Proses

Grand Prize Ari Bayuaji berasal dari tali nelayan yang terdampar di Sanur

Ari Bayuaji menangkan Grand Prize MR.D.I.Y Art Competition 2026 lewat tenun tali nelayan bekas dari Sanur, hasil proyek Weaving the Ocean sejak 2020.

Pameran berlangsung: 7-23 Agustus 2026  ·  Kurator: TIDAK_ADA
Grand Prize Ari Bayuaji berasal dari tali nelayan yang terdampar di Sanur
Ilustrasi  ·  Dibuat oleh AI

Ari Bayuaji bekerja dengan tali dan jaring nelayan bekas yang ia kumpulkan dari pesisir Sanur, Bali, terutama kawasan mangrove Mertasari, sejak masa pandemi 2020. Tali plastik dan nilon itu diurai helai demi helai menjadi serat tipis, lalu ditenun kembali bersama benang katun memakai alat tenun bukan mesin (ATBM) dengan bantuan penenun lokal Bali. Karya terbarunya, "The Storms that Unified Us" (2026), berbentuk diptych dua panel kain yang memadukan benang plastik, benang katun, manik batu alam, dan tembaga dalam gradasi biru laut dengan aksen menyerupai karang.

Bayuaji lahir di Mojokerto, Jawa Timur, sebelum menetap di Montreal, Kanada, dan menempuh studi seni rupa di Concordia University pada 2005-2010. Saat lockdown pandemi menahannya di Bali, ia mulai rutin membersihkan Pantai Sanur dan menemukan tali serta jaring nelayan yang menumpuk di kawasan mangrove Mertasari. Pengumpulan material ini sekaligus memberi kerja bagi nelayan dan warga sekitar selama krisis pariwisata, berlangsung dua tahun penuh sebelum karya-karya pertama proyek ini akhirnya dipamerkan ke publik secara luas di ruang komersial maupun institusi seni.

Pilihan material ini penting karena tali nelayan adalah limbah paling umum ditemukan di sepanjang garis pantai Bali, tapi paling jarang diolah jadi objek seni bernilai tinggi dibanding kayu apung atau kaca laut. Bayuaji menjelaskan asal proyek "Weaving the Ocean" yang ia mulai enam tahun lalu: "Banyak sampah yang saya temukan di laut Bali menginspirasi ini, benang dari tali plastik itu bisa diurai jadi bahan tenun seperti songket." Ia menegaskan proses ini selalu kolaboratif dengan penenun setempat: "Kami tenun lagi dengan teknik tenun tradisional sehingga menghasilkan karya seni."

Secara fisik, tali nilon jauh lebih kaku dan licin dibanding serat alami macam kapas atau pandan, sehingga sulit dianyam rapat dengan teknik tenun konvensional. Kekakuan itu memaksa tekstur akhir kain jadi tidak rata, bergelombang, dengan serat plastik yang tetap terlihat berbeda dari benang katun di sekitarnya, ketimbang menyatu mulus sebagai satu permukaan homogen. Bayuaji membiarkan kontras itu tampak apa adanya, menjadikan permukaan kain sebagai catatan visual pertemuan paksa antara limbah plastik dan kerajinan tenun warisan Bali.

"The Storms that Unified Us" meraih Grand Prize kategori profesional di MR.D.I.Y Indonesia Art Competition 2026, kompetisi tahunan kedua yang digelar PT Daya Intiguna Yasa Tbk bersama IndoArtNow dengan tema "Strength & Resilience", diumumkan 7 Agustus 2026 dari lebih 1.500 karya asal 32 provinsi. Dewan juri yang terdiri dari R.E. Hartanto, Mitha Budhyarto, Abigail Hakim, dan Edwin Cheah menilai berdasarkan gagasan, kreativitas, komposisi, dan teknik, dengan karya-karya pemenang dipamerkan di gerai MR.D.I.Y Lotte Mall Jakarta pada 7-23 Agustus 2026. Ketujuh pemenang kompetisi ini, termasuk Bayuaji, selanjutnya akan mewakili Indonesia di ajang regional tingkat Asia Tenggara, menempatkan tenun tali plastiknya sebagai representasi resmi ekosistem seni rupa nasional.

Sponsor ritel untuk karya yang secara eksplisit mengangkat limbah plastik menimbulkan ketegangan yang tidak bisa diabaikan begitu saja, sebab MR.D.I.Y sendiri adalah toko yang menjual produk plastik sekali pakai dalam jumlah besar kepada konsumen rumah tangga, mulai dari kantong belanja sampai wadah penyimpanan plastik rumah. Ketegangan ini justru memperkuat posisi karya Bayuaji, sebab kritik ekologis soal sampah plastik tidak lagi hanya beredar di ruang pameran independen, melainkan menembus etalase ritel arus utama yang selama ini jadi bagian dari rantai produksi sampah itu sendiri.

Praktik Bayuaji menunjukkan kecenderungan yang makin terlihat pada seniman Indonesia yang bergulat dengan material bekas: sampah laut bukan lagi sekadar isu lingkungan dalam pernyataan kuratorial, melainkan bahan baku teknis yang menuntut keterampilan tenun sungguhan. Enam tahun konsistensi Bayuaji pada proyek material yang sama, dari pembersihan pantai Sanur sampai podium kompetisi nasional, menjadi ukuran nyata bahwa praktik semacam ini butuh waktu jauh lebih panjang daripada siklus pameran tahunan biasa. Pengakuan institusional yang baru datang lewat kompetisi korporat pada 2026 menunjukkan jarak yang masih lebar antara riset material jangka panjang dan infrastruktur pendanaan seni rupa Indonesia yang bekerja dalam skema proyek tahunan.