Tiga Pelukis Sukawati Ubah Kerja Ngayah Kolektif Jadi Abstraksi Personal di Sanur
Pameran Impulse di Sanur Art Hub menghadirkan tiga pelukis Sukawati yang biasa ngayah bersama, kini pamer 26 karya abstrak secara individual.
Di Kalpataru Art Space, ruang pamer independen di kompleks Sanur Art Hub, Denpasar, 26 karya abstrak dari tiga pelukis asal Sukawati, Gianyar terpasang sejak 19 Agustus sampai 15 September 2026, dengan akses gratis di tengah hamparan sawah. I Made Mahendra Mangku menghadirkan enam lukisan cat air di atas kertas lewat teknik blobor, membiarkan pigmen dan air mengalir sendiri sampai bentuknya muncul tanpa sketsa awal. I Wayan Arnata memajang karya sulam benang, termasuk dua karya baru berjudul Resonansi dan Lintasan Lelaku, sementara I Made Galung Wiratmaja menampilkan 13 lukisan akrilik di kanvas berisi figur dan siluet yang sengaja dibiarkan tak utuh.
Yang dipertaruhkan Impulse bukan kualitas teknis masing-masing pelukis, melainkan alih wahana: bagaimana keterampilan kolektif yang biasa dipakai untuk ngayah, kerja bakti dekorasi upacara di banjar mereka, kini ditandatangani sebagai ekspresi personal di ruang pamer. Ketiganya berasal dari desa yang sama dan mengaku terbiasa menggarap dekorasi upacara bersama, pengalaman kerja kolektif yang secara struktur jauh berbeda dari tuntutan karya bertanda tangan tunggal. Arnata secara eksplisit menyebut karyanya berpijak pada ngodi, teknik tenun serat untuk kebutuhan ritual yang lazimnya dikerjakan demi kepentingan bersama, bukan demi nama satu orang.
Arnata paling berhasil membuktikan pertautan itu: dua karya barunya menerjemahkan ngodi jadi komposisi benang abstrak tanpa kehilangan jejak kerja tangan yang berulang dan sabar, ciri yang justru lahir dari kebiasaan menenun untuk ritual, bukan untuk pameran. Wiratmaja justru paling lemah menautkan karyanya ke argumen pameran ini, karena ia menjelaskan keterkaitannya lewat riwayat berbagi desa dan pengalaman ngayah bersama. Pilihan formalnya sendiri, figur akrilik tak utuh di atas kanvas, adalah gaya yang lazim dipakai banyak pelukis abstrak kontemporer tanpa rujukan kolektif apa pun.
Mahendra Mangku memperjelas posisinya lewat pernyataan singkat soal kesadaran ekologis: bagaimana menahan diri agar tidak merusak, dan bagaimana menjadikan lingkungan lebih harmonis. Enam karyanya tidak menggambarkan sawah atau pohon secara harfiah, tapi membiarkan tinta menemukan bentuknya sendiri di atas kertas, seolah proses berhati-hati itu sendiri yang ia maksud. Pilihan ini membuat karyanya jadi satu-satunya di antara tiga pelukis yang argumen personalnya benar-benar tampak di permukaan lukisan, bukan cuma di keterangan dinding.
Impulse pada akhirnya membuktikan klaim yang lebih sempit dari temanya sendiri: bukan bahwa dorongan personal dan denyut kolektif benar-benar bertemu di atas kanvas, melainkan bahwa riwayat berbagi desa saja sudah cukup menyatukan tiga praktik visual yang sebenarnya berjalan sendiri-sendiri. Tidak ada kurator yang menyusun argumen formal di antara ketiganya, hanya penulis pameran yang merangkai pernyataan personal jadi satu tema besar setelah karya-karyanya selesai dibuat. Akses gratis di tengah sawah menunjukkan keterbukaan ruang ini kepada publik, sementara kedalaman argumen yang menyatukan tiga pelukis dari desa yang sama masih bertumpu penuh pada biografi, bukan pada dialog visual antar karyanya.