Karya Baru Masriadi Masuk Lelang, Rekornya Sendiri Tak Tersentuh 18 Tahun
Estimasi resmi “Hero Audition” Masriadi di lelang Global Auction cuma Rp1,5 miliar, jauh di bawah rekor lelang tertingginya sendiri yang bertahan sejak 2008.
Global Auction menggelar penawaran daring untuk 205 karya sepanjang 11-30 Agustus 2026, ditutup dengan lelang langsung pada 30 Agustus di Park Hyatt Jakarta, menjual mulai dari lukisan hingga patung dari empat kategori: seni Asia Tenggara, seni Tiongkok, seni modern, dan seni kontemporer. Lelang ini menandai 23 tahun operasi rumah lelang tersebut sejak berdiri pada 2003, dengan katalog membentang dari "Women by the Lotus Pond" karya pelukis era kolonial Adrien-Jean Le Mayeur de Merprès dan "Artistically Talented" (1979) karya Basoeki Abdullah, sampai "Hero Audition" (2023) milik I Nyoman Masriadi dan "Resistance to the Power of Persecution" (2019) karya Heri Dono. Di antara dua kutub itu, katalog menyisipkan lima karya Srihadi Soedarsono, tiga karya S. Sudjojono termasuk "Flower" (1963), dan "Bridge Under the Bamboo Trees" (1972) karya Affandi.
Estimasi harga tiap lot tercantum terbuka di e-katalog PDF 205 halaman yang ditautkan langsung dari kanal resmi Global Auction, bisa diunduh siapa saja tanpa pendaftaran sebagai bidder. Untuk "Hero Audition", katalog mematok estimasi SGD 65.000-109.000, sekitar Rp900 juta-1,5 miliar, rentang yang berlaku untuk sebagian besar dari 205 lot yang ditawarkan, bukan cuma karya utama.
Yang justru layak diperhatikan adalah kesenjangan angkanya. Estimasi tertinggi "Hero Audition" di lelang ini, Rp1,5 miliar, jauh di bawah rekor lelang Masriadi sendiri. Christie's dan Sotheby's juga rutin mencantumkan estimasi rendah-tinggi tiap lot di katalog publik jauh sebelum hari lelang, praktik keterbukaan yang sama dengan Global Auction. Bedanya bukan soal siapa yang lebih transparan, melainkan ke arah mana pasar domestik menaksir ulang karya-karya maestro yang sama.
Rekor lelang jadi pembanding paling tajam untuk menilai jarak itu. Rekor lelang tertinggi Masriadi masih dipegang "The Man From Bantul (The Final Round)", terjual 1.006.402 dolar AS atau sekitar Rp10 miliar di Sotheby's Hong Kong pada Oktober 2008, rekor Asia Tenggara untuk pelukis hidup kala itu. Delapan belas tahun berselang, tidak ada satu pun lelang di dalam negeri, termasuk seri-seri Global Auction sebelumnya maupun estimasi "Hero Audition" di lelang ini, yang mendekati angka tersebut.
Ini bukan pertanda pasar Masriadi melemah. Karya-karyanya tetap laku di kisaran miliaran rupiah setiap kali masuk lelang regional, dan permintaan kolektor terhadap gaya sosok manusia super yang jadi ciri khasnya tidak surut sejak awal 2000-an. Yang berubah cuma lokasinya: validasi harga tertinggi untuk pelukis kontemporer top Indonesia tetap berlangsung di rumah lelang regional seperti Hong Kong dan Singapura, sementara lelang domestik lebih banyak berperan sebagai etalase ketimbang arena penentu harga.
Pola serupa terlihat pada pelukis modern Indonesia lain yang rutin masuk lelang regional. Karya "Pandawa Dadu" milik Hendra Gunawan, misalnya, terjual 26,48 juta dolar Hong Kong atau sekitar Rp44 miliar di Sotheby's Hong Kong pada April 2015, rekor tertinggi pelukis itu yang jauh di atas kisaran harga karya-karya sejenis yang selama ini beredar di lelang domestik Indonesia. Kesenjangan ini bukan cuma soal geografi pembeli, melainkan soal rumah lelang mana yang dipercaya pasar sebagai penentu harga acuan untuk seni rupa modern Indonesia, dan Jakarta belum jadi salah satunya.
Bagi ekosistem kolektor domestik, situasi ini berarti rumah-rumah lelang lokal berfungsi sebagai pintu masuk yang lebih terjangkau untuk mengoleksi karya maestro, bukan sebagai barometer harga tertinggi yang bisa dijadikan acuan investasi. Kolektor yang mengejar validasi nilai tertinggi untuk karya kontemporer top Indonesia, seperti Masriadi, tetap harus menengok ke luar negeri. Selama estimasi domestik tetap jauh di bawah capaian regional dan rekor domestik tidak kunjung menyaingi capaian itu, pasar lelang Indonesia berjalan sebagai etalase distribusi karya, bukan mesin penemuan harga.
*Koreksi (2 September 2026): Versi awal artikel ini menyatakan estimasi harga tidak dipublikasikan di katalog publik Global Auction. Pernyataan itu keliru; estimasi memang tercantum terbuka di e-katalog resmi mereka, dan artikel ini sudah diperbaiki untuk mencerminkan hal itu.