Pasar Seni & Koleksi

Nasirun Wafat, Estimasi Lelangnya Kalah Jauh dari Pelukis Malaysia

Delapan hari usai Nasirun wafat, estimasi karyanya di lelang Larasati Singapura kalah jauh dari karya pelukis Malaysia Ahmad Zakii Anwar pekan itu.

Pameran berlangsung: 9 Agustus 2026
Nasirun Wafat, Estimasi Lelangnya Kalah Jauh dari Pelukis Malaysia
Ilustrasi  ·  Foto: Wikimedia Commons

Delapan hari setelah pelukis Nasirun meninggal dunia pada 1 Agustus 2026 akibat henti jantung, dua karyanya, "Ratu Adil" dan "The King" (mixed media di atas karton keras, 2009), dilelang sebagai satu lot di sesi Modern and Contemporary Southeast Asian Art milik Larasati Auctioneers di Singapura pada 9 Agustus 2026. Estimasi resmi katalog untuk kedua karya itu cuma S$3.200 sampai S$4.300. Di lot lain pada sesi yang sama, satu lukisan tunggal karya pelukis Malaysia Ahmad Zakii Anwar, "Untitled" dari seri Undercover (cat minyak di kanvas, 2006), diestimasi jauh lebih tinggi, S$15.500 sampai S$22.500.

Nasirun dikenal luas sebagai salah satu pelukis paling produktif dari Yogyakarta, mengolah wayang, simbol Jawa, dan spiritualitas lokal dalam kanvas maupun instalasi selama lebih dari tiga dekade sejak lulus ISI Yogyakarta pada 1994. Ia meninggal di RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta pukul 05.58 WIB, dan jenazahnya dimakamkan hari itu juga di Makam Seniman Girisapto, Imogiri. Katalog lelang Larasati untuk sesi 9 Agustus sudah harus disusun jauh sebelum kabar duka itu beredar, sehingga estimasi harga Ratu Adil dan The King bukan reaksi pasar atas kematiannya, melainkan potret harga rutin yang berlaku untuknya semasa hidup.

Rekam jejak pameran internasional turut menopang reputasi Nasirun: ia tampil di pameran bersama Pathos of the Fringes di Korea Selatan dan Shah Alam Biennale di Malaysia, keduanya pada 2017, ajang yang menempatkannya sejajar dengan pelukis kontemporer Asia Tenggara segenerasinya. Ahmad Zakii Anwar sendiri sudah lebih dulu masuk radar lelang internasional besar seperti Christie's, sementara Nasirun selama ini lebih banyak tercatat di rumah lelang regional yang lebih kecil seperti Global Auction dan Larasati. Perbedaan penetrasi pasar lelang inilah, bukan sekadar pengakuan kritis, yang tampak paling menentukan kesenjangan estimasi kedua pelukis di sesi yang sama.

Kesenjangan estimasi ini juga punya penjelasan yang bisa dilacak dari format karya. Dua karya Nasirun berukuran relatif kecil dan memakai media campuran di atas karton, sementara karya Ahmad Zakii Anwar berupa satu lukisan cat minyak berukuran 100 x 188 sentimeter di atas kanvas, format yang secara konvensi pasar lelang regional dihargai lebih tinggi dibanding karya di atas karton atau kertas. Nasirun sendiri mencatat rentang estimasi S$400 sampai S$36.000 di 48 hasil lelangnya sejak 2022, termasuk karya besar seperti "Wayang Umbul/When Wisdom Becomes a Show" (1998) yang sempat menyentuh S$15.000 sampai S$25.000 pada Maret 2025, tapi itu pengecualian, bukan pola umum di riwayat lelangnya.

Kesenjangan ini tidak proporsional dengan posisi Nasirun dalam wacana seni rupa Indonesia. Kematiannya diberitakan luas oleh media nasional dengan sebutan "maestro" dan dihadiri pelayat dari kalangan seni rupa Yogyakarta di hari pemakamannya sendiri, pengakuan kultural yang jauh melampaui penghargaan pasar sekunder atas karyanya. Ahmad Zakii Anwar, yang rekor lelangnya mencapai HK$427.500 di Christie's Hong Kong pada November 2007, punya jejak harga tunggal yang lebih tinggi dibanding batas atas seluruh riwayat lelang Nasirun.

Rentang harga Nasirun di lelang bukan anomali satu sesi ini saja. Karya-karyanya yang dilelang di Global Auction dan Larasati sejak akhir 2022 hingga pertengahan 2026 konsisten berkisar di S$1.000 sampai S$29.000, dengan hanya segelintir lot menembus S$25.000 seperti "Wayang Umbul" (1998) dan "The Gold Mountain" (2018). Posisi harga ini bertahan datar dari tahun ke tahun, tidak menunjukkan tren kenaikan meski Nasirun terus aktif berpameran dan namanya makin sering muncul di wacana publik menjelang kematiannya.

Bagi kolektor Indonesia, kasus ini menunjukkan bahwa pengakuan kultural domestik terhadap seorang maestro tidak otomatis diterjemahkan pasar lelang regional ke harga yang sepadan dengan pelukis Asia Tenggara lain yang levelnya setara. Larasati sendiri adalah rumah lelang berbasis Indonesia yang mengoperasikan pasar ini, bukan rumah lelang asing yang mengabaikan konteks lokal, sehingga kesenjangan harga ini berlangsung di dalam ekosistem yang justru paling memahami rekam jejak Nasirun. Yang tersisa bukan lagi soal pengakuan Nasirun sebagai maestro, melainkan batas struktural pasar sekunder Asia Tenggara yang belum pernah menempatkan pelukis Indonesia sekelas dia di kisaran harga yang sepadan dengan pelukis Malaysia sekelasnya.