ISI Yogyakarta Pertaruhkan Setahun Penuh untuk Definisikan Ulang Seni di Era AI
ISI Yogyakarta menjadikan kecerdasan buatan tema resmi Dies Natalis ke-42 setahun penuh, dari seminar nasional hingga pameran Post Machine Algorithm.
Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menutup rangkaian Dies Natalis ke-42 pada 30 Agustus 2026. Tiga setengah bulan penuh sejak 12 Mei, kampus ini mengangkat satu tema tunggal: "Redefining Arts Impact: Seni, Kemanusiaan, dan Kreativitas di Era Artificial Intelligence". Rangkaiannya berjalan dari Sidang Senat Terbuka 3 Juni, Seminar Nasional "Dialektika Seni dan Artificial Intelligence dalam Rekonstruksi Nilai Estetika" 17 Juni, sampai pameran "Post Machine Algorithm: Resonansi Rasa dalam Jejaring Biner" di Galeri R.J. Katamsi pada 20-26 Juni 2026.
Yang layak dipantau bukan cuma isi pamerannya, melainkan keputusan sebuah perguruan tinggi seni menjadikan kecemasan soal AI sebagai kerangka institusional resmi selama satu tahun akademik. Ini bukan satu agenda pameran yang lewat begitu saja, melainkan tema yang menembus seminar, kurikulum, dan kurasi sekaligus. Keputusan semacam ini layak dipantau sekarang karena ia akan membentuk cara ribuan mahasiswa seni memandang AI jauh sebelum isu itu sampai ke meja galeri atau balai lelang.
Disrupsi paling tajam di kasus ini bukan soal siapa berhak mengklaim kepengarangan karya. Yang dipertaruhkan justru siapa yang berhak menentukan kriteria nilai seni, ketika algoritma bisa meniru banyak keterampilan teknis dalam hitungan detik. Kurator "Post Machine Algorithm", Nadiyah Tunnikmah, menyatakan istilah post-machine mengajak publik membayangkan sikap dan posisi manusia setelah kehadiran teknologi itu.
Pernyataan kuratorial pameran menegaskan intuisi, pengalaman batin, emosi, dan jejak kemanusiaan sebagai fondasi yang belum sepenuhnya bisa direplikasi sistem algoritmik. Klaim ini menggeser ukuran keahlian seni dari eksekusi teknis ke pengalaman batin yang jauh lebih sulit diukur. ISI Yogyakarta menyatakan tema ini dipilih untuk "membaca perubahan zaman, terutama hadirnya kecerdasan buatan yang turut memengaruhi praktik seni, pendidikan, kreativitas, kebudayaan, dan kehidupan manusia".
Pergeseran ini paling terasa di level kelembagaan, bukan di level pasar karya seperti kebanyakan isu AI-seni lainnya. Kampus seni yang biasanya menilai mahasiswa dari penguasaan teknik kini harus merumuskan standar baru soal apa yang membuat karya "manusiawi". Perdebatan ini sengaja dipindahkan dari obrolan informal di kelas ke kurikulum, seminar nasional, dan pameran institusional yang menentukan arah pengajaran seni ke depan.
Ada argumen yang mendukung posisi ini sebagai perluasan wajar praktik artistik, bukan ancaman yang harus dibendung. Rangkaian Dies Natalis menyertakan workshop teknologi dan simposium internasional, termasuk kolaborasi dengan Australia Art Orchestra lewat Project Eleven dan simposium diplomasi seni Arcadesa. Pola ini sejalan dengan cara generasi seniman terdahulu mengadopsi fotografi atau perangkat lunak digital tanpa kehilangan otoritas artistiknya.
Dari sudut ini, kampus tidak menolak AI, melainkan mendisiplinkan cara mahasiswa berinteraksi dengannya lewat kerangka akademik yang jelas. Namun posisi kuratorial pameran justru condong ke arah pembatasan, bukan perluasan tanpa syarat terhadap AI. Dengan menegaskan jejak kemanusiaan sebagai nilai yang belum bisa direplikasi mesin, kurator diam-diam menempatkan AI sebagai batas yang harus dijaga, bukan alat yang bebas masuk ke proses kreatif inti.
Ketegangan antara membuka diri pada teknologi lewat workshop dan simposium, dan mempertahankan garis pemisah manusia-mesin lewat kurasi pameran, tidak diselesaikan rangkaian acara ini. Ketegangan itu dibiarkan terbuka sebagai pertanyaan pedagogis yang akan terus bergulir di ruang kelas ISI Yogyakarta setelah Dies Natalis usai.
Pameran ini sendiri menghadirkan lebih dari 120 karya dari mahasiswa, dosen, dan alumni ISI Yogyakarta lintas disiplin, mulai dari seni murni, kriya, hingga desain. Peserta internasional datang dari Thailand, Malaysia, Jepang, dan Australia, menurut keterangan panitia. Kurator menyebut pameran ini sebagai "wadah apresiasi bagi sivitas akademika maupun masyarakat untuk melihat bagaimana seni tetap berperan di tengah perkembangan teknologi".
Kalimat itu menempatkan seni sebagai pihak yang harus membuktikan relevansinya, bukan teknologi yang harus membuktikan diri layak masuk ruang seni. Skala lintas generasi dan lintas negara ini menunjukkan kegelisahan soal AI dalam seni bukan cuma isu lokal kampus, melainkan kekhawatiran yang dibagikan komunitas seni rupa di kawasan yang sama.
Salah satu liputan lokal bahkan mencatat angka lebih tinggi, sekitar 167 karya, meski jumlah pesertanya disebut serupa, sekitar 120 orang lebih. Selisih angka ini wajar terjadi pada pameran kolektif berskala besar yang menerima karya dari banyak jalur sekaligus, mulai dari tugas akhir mahasiswa sampai kontribusi alumni dan mitra internasional. Yang konsisten dari semua laporan adalah skala pameran ini jauh melampaui pameran kampus biasa, sejalan dengan posisi Dies Natalis sebagai rangkaian perayaan tahunan ISI Yogyakarta.
Bagi ekosistem seni rupa Indonesia, langkah ISI Yogyakarta ini penting karena datang dari institusi pendidikan, bukan galeri atau pasar seni yang biasanya lebih dulu bereaksi terhadap tren teknologi. Keputusan kurikuler dan kuratorial semacam ini punya daya jangkau lebih panjang dibanding tren pameran musiman, karena ia membentuk cara ribuan mahasiswa seni memandang posisi mereka sendiri terhadap AI sebelum masuk ke dunia profesional. Kalau kampus seni lain di Indonesia mengikuti pola serupa, pertanyaan soal batas kemanusiaan dalam berkarya berpotensi menjadi bagian tetap kurikulum seni rupa Indonesia, bukan sekadar topik pameran yang datang dan pergi setiap semester.