Seni & Disrupsi Teknologi

Ketika Robot AI Prancis Naik Panggung GIK UGM, Kurator Lokal Absen

Pameran seni digital Prancis Escape mendarat pertama di Asia Tenggara lewat GIK UGM, dikurasi penuh di luar negeri tanpa keterlibatan kurator Indonesia.

Pameran berlangsung: 21 Agustus - 10 September 2026  ·  Kurator: Eric Boulo, Antonin Fourneau
Ketika Robot AI Prancis Naik Panggung GIK UGM, Kurator Lokal Absen
Ilustrasi  ·  Dibuat oleh AI

Escape Reloaded: Générations Numérique dibuka 21 Agustus 2026 di Galeri Bulaksumur, Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada. Pameran ini kerja sama GIK UGM dengan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia lewat Institut français d'Indonésie, menghadirkan sebelas karya yang sudah berkeliling lebih dari 40 negara sejak dikurasi Eric Boulo dan Antonin Fourneau pada 2024. Ini presentasi pertama Escape di Asia Tenggara, dan yang layak dipantau bukan isi pamerannya semata, melainkan cara paket kuratorial global ini mendarat utuh di kampus Indonesia lewat kanal diplomatik, bukan lewat seleksi kurator lokal.

Kurasi Boulo dan Fourneau membagi sebelas karya ke empat kelompok tema: La Révolution Numérique yang menelusuri sejarah awal internet, Le Code Est La Loi yang mempersoalkan kapitalisme data dan kecerdasan buatan, satu kelompok soal beban psikologis teknologi sehari-hari, dan satu kelompok soal permainan kolektif di ruang digital. Karya lain yang tampil termasuk Windows93.net (2014) karya Jankenpopp dan Zombectro yang membangkitkan nostalgia era awal web, serta Center for Technological Pain (2018) karya Dasha Ilina yang mendeskripsikan gejala kelelahan digital lewat objek klinis rekaan. Soul Shift jadi satu-satunya karya yang secara eksplisit mempersoalkan kecerdasan buatan lewat tubuh robot, bukan lewat simulasi data atau nostalgia internet semata.

Soul Shift (2018) karya Justine Emard merekam interaksi dua robot humanoid bernama Alter 1 dan Alter 2. Jaringan saraf keduanya dikembangkan Laboratorium Ishiguro di Osaka University dan Takashi Ikegami di University of Tokyo, meniru sekitar seribu sel saraf agar robot bisa "belajar" gerakan dari sinyal sensor. Ketika Alter 1 menemukan kembarannya yang masih diam, karya ini merekam proses memori berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain, yang dideskripsikan sebagai bentuk reinkarnasi tanpa daging.

Disrupsi paling tajam di kasus ini bukan soal siapa pengarang karya, melainkan siapa yang berhak menentukan karya mana yang layak dianggap penting secara global. Sebelas karya Escape sudah diseleksi penuh oleh Boulo dan Fourneau di Prancis, dipaketkan sebagai produk tur resmi Institut Français, lalu didistribusikan ke jaringan Alliance Française dan mitra strategis di puluhan negara. Untuk edisi Yogyakarta, produksi teknis digarap OrthoLab dan Art Pack Service, dua vendor yang sama dipakai di lokasi tur sebelumnya, dengan Gameloft Indonesia masuk sebagai pendukung teknologi lokal.

GIK UGM menerima paket ini sebagai venue penayangan, bukan sebagai kurator yang ikut menyeleksi sebelas karya yang tampil. Model sirkulasi seperti ini mengubah cara karya digital divalidasi, bukan lewat kurasi lokal yang membaca konteks Yogyakarta, melainkan lewat pengulangan jadwal tur yang sudah baku di puluhan negara sebelumnya. Validitas karya, termasuk Soul Shift yang sebelumnya sudah dipamerkan di Mori Art Museum Tokyo, Barbican London, dan Irish Museum of Modern Art Dublin, datang dari jejak sirkulasi internasional itu sendiri, bukan dari pembacaan kritis atas apa yang relevan bagi publik seni rupa Yogyakarta hari ini.

Ada argumen yang masuk akal untuk model ini. GIK UGM baru serius membangun infrastruktur pameran sejak Galeri Bulaksumur berdiri, dan lewat Escape publik Yogyakarta bisa menonton karya kelas dunia tanpa menunggu institusi lokal membangun jaringan kuratorial internasional dari nol. Kerja sama ini juga bukan proyek sekali jalan, karena dalam waktu dekat GIK UGM disebut akan menjadi tuan rumah Jakal Design Week 2026 yang menghadirkan lebih banyak desainer dan seniman Prancis, bagian dari rencana jangka panjang yang sama.

Tapi kemudahan itu punya harga. Tidak ada nama kurator Indonesia yang disebut terlibat dalam proses seleksi sebelas karya yang tampil, dan tidak ada sumber yang menyebut GIK UGM mengubah satu pun pilihan dari versi yang sudah baku di Prancis. Bandingkan dengan UTOPIA X DISTOPIA: UnBALIveable di Bali, pameran teknologi-seni lain yang dibuka bulan yang sama, yang justru dikurasi langsung oleh akademisi Bali sendiri, I Made Marthana Yusa dan Yere Agusto, meski jangkauan liputannya jauh lebih terbatas dibanding jaringan global Escape.

Escape bukan kunjungan sekali jalan. Pameran ini bagian dari France-Indonesia Innovation Year 2026, inisiatif bilateral pemerintah Prancis yang mencakup 21 topik strategis termasuk ekonomi kreatif dan seni budaya, dan secara eksplisit menempatkan GIK UGM sebagai mitra strategis untuk pameran seni kontemporer bersama seniman dan kurator Prancis di tahun-tahun mendatang, lengkap dengan agenda susulan seperti Global EduFair 2026 dan skema magang internasional untuk mahasiswa Prancis. Direktur GIK UGM sendiri menyebut rencana membangun model kurasi dan residensi berbasis creative-tech dari kemitraan ini, bukan cuma menerima pameran tur satu kali.

Dukungan teknis Gameloft Indonesia untuk edisi ini menegaskan arah yang sama: sponsor industri dan kesepakatan pemerintah-ke-pemerintah, bukan inisiatif kuratorial independen dari komunitas seni rupa lokal, yang kini menentukan bagaimana wacana seni-teknologi masuk ke kampus Indonesia.