Hidangan ala Kadarnya: Arsip Karnedi Nataatmaja Tanpa Uji Kanon
Pameran arsip Karnedi Nataatmaja di Tjap Sahabat Bandung menghidupkan ingatan personal, tapi belum menguji posisinya di kanon seni rupa Bandung.
Di Galeri Tjap Sahabat, kawasan Cibadak, Bandung, sebuah lukisan becak berukuran sedang dari dekade 1970-an menampilkan pengayuh becak dan penumpang perempuan duduk berdampingan dengan tumpukan sayuran, dengan tulisan tangan "Ohh nasib" tertera di badan becaknya. Berdampingan dengannya terpasang lukisan bergaya dekat kubisme "Nonton Pawai" (1952), serta dua karya bertema sosial-politik "Tokoh Oknum" (1972) dan "Pahlawan Padamu Kami Mengadu" (1977), dipajang dalam satu deret dinding tanpa sekat kronologis antara karya personal dan karya bertema publik. Satu vitrin kaca berisi desain sampul Pos dan Giro era 1951-1961 berformat kertas cetak kecil, dipajang berdampingan dengan surat undangan asli berbunyi "Saya mengundang anda datang melihat karya saya dengan hidangan ala kadarnya" -- dokumen pribadi dan kanvas ditempatkan dalam satu alur pandang yang sama, tanpa jarak fisik antara arsip dan karya seni.
Kurator Wibisono Tegar Guna Putra menyebut Karnedi Nataatmaja hidup dalam "ingatan komunikatif", memori yang bertahan lewat percakapan sehari-hari dan cerita mulut ke mulut, bukan lewat publikasi akademik formal. Susunan pameran menerjemahkan gagasan itu secara harfiah: surat undangan pribadi dipajang setara dengan karya seni, mengaburkan batas antara dokumen personal dan objek estetik yang biasanya dipisahkan tegas oleh museum konvensional. Pilihan kuratorial ini membuat pameran berfungsi ganda, sebagai arsip biografis sekaligus ruang pamer karya, tanpa hierarki yang jelas antara mana yang dokumen dan mana yang karya utama.
Kekuatan pameran ini ialah konsistensi antara premis kuratorial dan objek yang benar-benar dipamerkan: desain komersial Pos dan Giro membuktikan klaim kurator bahwa Karnedi "menangkap orang-orang yang kebetulan sedang hidup" lewat kerja sehari-hari, bukan lewat gestur artistik besar yang mencari pengakuan luas. Namun pameran ini sepenuhnya bersandar pada testimoni keluarga dan satu kurator, tanpa perbandingan posisi Karnedi terhadap sezamannya seperti Popo Iskandar atau Achmad Sadali, yang pernah sepanggung dengannya dalam pameran bersama di Balai Budaya Jakarta pada 1954. Akibatnya, klaim tentang signifikansi historis Karnedi berdiri sendiri di luar kanon seni rupa Bandung yang lebih luas, alih-alih benar-benar diuji terhadapnya.
Pengelola galeri, Mei Suling, mencatat daya tarik Karnedi justru pada rangkap perannya sebagai ilustrator sekaligus pelukis, posisi ganda yang jarang dipetakan bersamaan dalam sejarah seni rupa Bandung. Ilustrasi buku anak untuk penerbit Tarate dan Ganaco, serta desain perangko Asian Games 1962 yang juga dipajang dalam vitrin yang sama, menunjukkan praktik komersialnya berjalan paralel dengan lukisan personalnya tanpa saling meniadakan. Rangkap peran inilah yang memberi pameran materi yang jauh lebih kaya dibanding pameran arsip bermedium tunggal pada umumnya, karena pengunjung bisa melacak satu tangan yang sama bekerja di ranah komersial dan personal sekaligus.
Hidangan ala Kadarnya berhasil sebagai proyek penyelamatan arsip personal: surat, desain komersial, dan lukisan personal berhasil disatukan jadi potret utuh seorang perupa yang sengaja memilih tak dikenal luas semasa hidupnya. Namun ia belum berhasil sebagai proyek historiografi seni rupa, sebab pameran ini menghidupkan kembali satu nama tanpa pernah merombak posisi nama itu di peta seni rupa Bandung yang lebih luas.