Seni & Disrupsi Teknologi

Resonora dan Kepengarangan yang Diserahkan ke Sistem Responsif

Instalasi Resonora karya Dearista Nooria Kusuma di iLight Singapore menggugat kepengarangan tunggal, tapi dibingkai sebagai prestasi ekonomi kreatif.

Pameran berlangsung: 5-28 Juni 2026  ·  Kurator: TIDAK_ADA
Resonora dan Kepengarangan yang Diserahkan ke Sistem Responsif
Ilustrasi  ·  Foto: Wikimedia Commons

Instalasi Resonora karya arsitek dan desainer interaktif Dearista Nooria Kusuma bersama studio OSTUDIO tampil di iLight Singapore 2026, festival cahaya tahunan yang berlangsung 5-28 Juni di kawasan Marina Bay dan Raffles Place. Karya ini menangkap suara lalu lintas dan percakapan kota secara real time, lalu menerjemahkannya menjadi pola cahaya yang mengalir di atas lapisan kain yang digantung di ruang publik. Epson berperan sebagai mitra teknologi resmi festival, menyediakan sistem proyeksi yang menjalankan visualisasi dinamis itu di sepanjang durasi pameran.

Resonora tampil bersama 13 instalasi lain dari seniman berbagai negara, termasuk Prancis, Kanada, Jepang, dan Korea Selatan, di bawah festival yang memposisikan diri sebagai perayaan cahaya publik terbesar di Asia. Skala ini penting untuk konteksnya: Resonora bukan karya galeri tertutup yang butuh tiket masuk atau seleksi kolektor, melainkan objek yang harus bekerja di tengah lalu lalang pejalan kaki dan wisatawan selama hampir sebulan penuh. Posisi itu langsung membentuk apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan karya ini secara konseptual.

Sistem ini menempatkan otoritas artistik pada posisi yang tidak biasa untuk karya arsitektural. Dearista dan OSTUDIO merancang algoritma dan parameter, tapi pola cahaya final pada momen tertentu ditentukan oleh suara kota yang tidak terduga, bukan oleh keputusan tangan langsung. Artinya, tak ada dua momen presentasi Resonora yang identik, dan seniman kehilangan kontrol penuh atas wujud akhir karyanya begitu sistem mulai berjalan setiap malam.

Ini varian gugatan kepengarangan yang sudah lama muncul di tradisi seni generatif, jauh sebelum kecerdasan buatan masuk ke wacana seni. Siapa pengarang karya kalau wujud akhirnya bergantung pada input yang berada di luar kendali seniman, dan berubah setiap kali sistem diaktifkan? Resonora tidak menjawab pertanyaan ini, tapi mengoperasikannya secara konkret lewat mekanisme suara-ke-cahaya yang bisa diverifikasi siapa pun yang berdiri di depan instalasinya.

Pergeseran paling jelas ada pada sirkulasinya. Karena wujud visualnya tak bisa direproduksi identik, nilai Resonora tidak terletak pada objek yang bisa dibawa pulang atau dikoleksi, melainkan pada pengalaman spasial sekali jalan yang cuma bisa disaksikan langsung di lokasi selama festival berlangsung.

Model sirkulasi ini berbeda dari pasar seni digital berbasis kepemilikan token. Karya ini publik dan gratis diakses, dibiayai oleh negara penyelenggara festival. Validasinya datang dari jumlah pengunjung yang melintas selama hampir sebulan festival berlangsung, bukan dari harga lelang atau kepemilikan token digital.

Ada argumen kuat bahwa pendekatan ini memperluas praktik desain interaktif secara sah, bukan sekadar tempelan hiburan festival. Dearista menjelaskan bahwa Resonora lahir dari pertanyaan bagaimana persepsi ruang kota dibentuk bukan cuma oleh apa yang dilihat, tapi juga apa yang didengar. Sistem real time ini mengoperasikan gagasan itu secara konkret lewat pemetaan suara jadi cahaya, bukan sekadar menyatakannya sebagai konsep di atas kertas.

Kombinasi arsitektur, akustik, dan pemrograman generatif ini menempatkan Resonora sebagai perluasan disiplin desain interaktif, bukan sekadar dekorasi festival cahaya yang biasa mengandalkan pola statis atau berulang. Karya ini butuh keahlian teknis yang jauh lebih rumit daripada instalasi lampu dekoratif konvensional, karena sistem harus memproses data akustik secara langsung tanpa jeda selama festival berjalan. Sejauh ini, argumen tersebut berdiri kokoh di atas bukti kerja teknis dan konseptual yang jelas.

Namun ambisi konseptual itu berhadapan dengan framing yang datang dari sumber resmi Indonesia sendiri. Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyebut karya ini sebagai bukti bahwa "inovasi yang menggabungkan kreativitas dan teknologi memperkuat peran ekonomi kreatif sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional". Kalimat itu menempatkan Resonora sebagai aset diplomasi ekonomi, bukan sebagai karya yang mempertanyakan kepengarangan dan status objek seni yang tetap.

Pola ini bukan cuma soal satu kutipan pejabat yang kebetulan kurang tepat. Ketika pencapaian artistik lintas disiplin diukur lewat kontribusinya pada ekonomi kreatif dan citra bangsa, pertanyaan konseptual yang dibuka karya itu sendiri kehilangan ruang untuk dibahas secara serius. Pertanyaan itu soal siapa pengarang sistem generatif, dan bagaimana karya tanpa wujud tetap semestinya dinilai.

Liputan yang ada soal Resonora sejauh ini datang dari kanal ekonomi kreatif dan diplomasi, bukan dari kritikus atau institusi seni Indonesia mana pun. Kekosongan ini menegaskan bahwa perhatian yang diterima karya ini berhenti di level pencapaian teknis dan simbol bangsa, sebelum sampai ke pertanyaan yang justru paling menarik dari sistem generatif itu sendiri.

Kasus Resonora memperlihatkan posisi ganda ekosistem seni Indonesia di persimpangan teknologi generatif. Dearista dan OSTUDIO membuktikan desainer Indonesia bisa bersaing di platform interaktif internasional yang sama dengan seniman dari Prancis, Kanada, Jepang, dan Korea Selatan pada festival berskala besar. Tapi selama pencapaian semacam ini terus dibaca lewat kacamata kontribusi ekonomi, pertanyaan soal kepengarangan sistem generatif yang dibuka karya itu sendiri tetap menunggu forum yang mau membahasnya sebagai wacana seni, bukan sebagai prestasi diplomasi.