Seni & Disrupsi Teknologi

Frieze London Serahkan Kepengarangan ke Pengunjung, Google Danai Eksperimennya

Feral Metaverse Spider karya Theo Triantafyllidis menyerahkan wujud akhir ke pengunjung, Google jadi pendana AI pertama Frieze London Artist Award.

Pameran berlangsung: 9 Juli 2026 (pengumuman pemenang); karya dipamerkan 14-18 Oktober 2026
Frieze London Serahkan Kepengarangan ke Pengunjung, Google Danai Eksperimennya
Ilustrasi  ·  Foto: Wikimedia Commons

Theo Triantafyllidis, seniman kelahiran Athena yang berbasis di kota yang sama, terpilih sebagai pemenang Frieze London Artist Award 2026 pada awal Juli. Penghargaan ini mengundangnya membuat karya baru berjudul "Feral Metaverse (Spider)", sebuah patung laba-laba raksasa yang bisa dipanjat pengunjung, untuk dipamerkan di Regent's Park, London, pada 14-18 Oktober 2026. Triantafyllidis dikenal lewat praktik yang menggabungkan game, simulasi, performans, dan instalasi, dengan latar belakang MFA dari UCLA dan diploma arsitektur dari National Technical University of Athens.

Rekam jejaknya bukan rekam jejak seniman baru yang kebetulan menang undian teknologi. Karyanya sudah tampil di Whitney Museum, Centre Pompidou, dan Venice Biennale 2017, jauh sebelum AI generatif jadi topik arus utama di seni rupa. Latar itu penting untuk membaca "Feral Metaverse (Spider)" bukan sebagai gimmick teknologi baru, melainkan kelanjutan dari praktik yang sejak awal bekerja di persimpangan game, simulasi, dan interaksi fisik.

Karya ini bukan objek diam. Pengunjung memanjat dan memegang struktur patung sambil masuk ke lingkungan permainan multiplayer bersama orang asing lain di lokasi. Gerakan fisik kolektif mereka membentuk "tubuh kelompok" sementara, seperti menara, roda, atau pelukan, yang divisualisasikan di layar sekaligus dialami langsung di ruang pameran.

Triantafyllidis menjelaskan pilihan bentuk laba-laba sebagai representasi sifat yang ia hargai: "aneh, menakutkan, cerdas, licik, dan secara tak terduga lembut". Eva Langret, Direktur EMEA Frieze, menggambarkan pengalaman karya ini dengan kalimat langsung: "Kamu harus ada di sana, di ruangan itu, memanjatnya, memainkannya, mencari tahu caranya bersama orang asing." Kutipan itu menegaskan bahwa nilai karya ini tidak bisa dipindahkan ke layar atau reproduksi, ia cuma ada selama orang benar-benar hadir dan bergerak bersama.

Ini tahun kesebelas Frieze London Artist Award, tapi baru kali ini Google Arts & Culture masuk sebagai co-commissioner. Brief tahun ini secara eksplisit mengundang seniman bereksperimen dengan teknologi mutakhir, termasuk AI, sebagai alat kolaboratif, bukan sekadar objek yang dikritisi. Forma, organisasi nirlaba yang selama ini menjadi co-producer penghargaan, tetap terlibat mendampingi produksi karya bersama Google.

Format ini langsung menggugat siapa penulis karya. Triantafyllidis merancang konsep dan struktur patungnya, sistem digital yang dibangun bersama Google menjalankan mekanisme permainan multiplayer, tapi wujud akhir "tubuh kelompok" yang muncul di tiap sesi ditentukan oleh tindakan fisik pengunjung yang tidak bisa diprediksi sebelumnya. Tidak ada satu sesi permainan yang menghasilkan bentuk identik, karena hasilnya bergantung pada kerja sama spontan orang-orang asing yang kebetulan memanjat patung itu bersamaan.

Pergeseran paling jelas ada pada siapa yang mendanai validasi institusional semacam ini. Sebelumnya, kredibilitas Frieze London Artist Award murni berasal dari kurasi juri di dalam ekosistem seni, tanpa keterlibatan modal dari luar dunia seni. Masuknya Google Arts & Culture sebagai pendana pertama mengubah itu, menempatkan kapital perusahaan teknologi sebagai pihak yang ikut menentukan proyek AI mana yang layak disebut serius secara artistik.

Ada argumen kuat bahwa langkah ini memperluas cara AI dipakai dalam seni, ketimbang mengulang perdebatan lama soal gambar yang digenerate mesin. Freya Salway, Head of Lab Google Arts & Culture, menyebut ketertarikan mereka pada "teknologi yang melayani koneksi manusia, permainan, dan pengalaman bersama". Fokus itu menjauhkan "Feral Metaverse (Spider)" dari sorotan paling umum soal AI di seni, yaitu gambar statis hasil prompt yang dituding meniru gaya seniman tanpa izin.

Tapi posisi Google sebagai pendana pertama dalam sejarah sebelas tahun penghargaan ini pantas dicermati, terlepas dari niat baik yang disampaikan. Perusahaan yang sama sedang membangun bisnis besar di sekitar alat AI kreatif. Kepentingan itu bertemu langsung dengan upaya membuat penggunaan AI di seni terlihat wajar dan diterima secara institusional, dan batas antara dukungan artistik dengan kepentingan komersial jadi sulit dipisahkan.

Riset ini tidak menemukan kasus Indonesia yang benar-benar bersinggungan dengan model pendanaan korporasi teknologi untuk karya AI partisipatif semacam ini. Ekosistem seni Indonesia, lewat festival seperti ARTJOG, sudah punya tradisi kuat karya interaktif dan partisipatif berskala besar yang melibatkan pengunjung secara fisik. Format "Feral Metaverse (Spider)" karena itu bukan sesuatu yang asing secara bentuk di sini, meski pola pendanaan tech-corporate seperti di Frieze London belum punya presedennya.

Kalau pola pendanaan semacam itu mulai merambah festival sejenis di Indonesia, pertanyaan soal siapa yang berhak mendefinisikan "AI yang sah" akan berlaku sama persis di sini.

Yang berubah bukan cuma medium karyanya, tapi siapa yang punya kuasa mendefinisikan eksperimen mana yang pantas didanai dan dipamerkan sebagai seni AI yang serius. Kekuasaan itu belum punya jawaban tunggal, dan kemunculan Google sebagai pendana pertama membuatnya makin sulit dipisahkan dari kepentingan bisnis yang jauh lebih besar dari satu patung laba-laba di Regent's Park.